Sunday, January 13, 2013

"The Impossible" - the words itselfs said I'm Possible

Again, it's movie weeks :D
Ini film pertama yang kami tonton di tahun 2013 "The Impossible"

Alasan pengen nonton film ini :
  • ada Naomi Watts yang masuk nominasi Best Actress - Motion Picture Drama di Penghargaan Golden Globe ke 70.
  • film ini masuk ke dalam 35 nominasi penghargaan di dunia perfilman, dan meraih 3 penghargaan. (sumber : Wikipedia)
  • Kisah nyata yang diangkat menjadi film, selalu punya pesan moral yang  dekat sekali dengan kehidupan manusia lainnya.
  • Tsunami. Siapa yang bisa lupa dengan malapetaka yang menghancurkan sebagian besar pesisir pantai di beberapa negara di Asia Tenggara?

Poster Film
Malam Natal yang romantis dan menyenangkan ketika seluruh keluarga menghabiskan waktu bersama di tepi pantai. Tidak ada firasat buruk atau hal semacam itu, hanya merasa agak sulit tidur saja.

Keesokan harinya adalah pagi yang cerah. Bersenang-senang di luar ruangan menjadi sangat mengasyikan buat seluruh keluarga. Anak-anak dan sang ayah bermain di tepi kolam renang, sedangkan sang ibu menikmati semilir angin sambil membaca di kursi dekat kolam.

Tiba-tiba hembusan angin terasa semakin kencang, terdengar bunyi debur semakin keras, burung-burung memekik panik sambil terbang menjauhi arah pantai, angin dan debur menjadi satu dan semakin kencang, daaannn.....

B L A C K E D    O U T

Terbentur reruntuhan bangunan, dihantam batang pohon, tergores ranting pohon, sobek di bagian dada dan kakinya, nggak bikin Maria Bennet berhenti berusaha menyelamatkan dirinya dan si sulung, Lucas Bennet. Lucas yang penuh dengan luka dan lebam di tubuhnya pun nggak berhenti untuk saling bantu sama sang ibu untuk mencari pertolongan buat mereka berdua.

Kehausan, lelah, marah, bingung, pendarahan, menahan sakit di sekujur tubuh, takut, sampai hampir nggak bisa tersenyum. Dengan secercah harapan di dalam hati, akhirnya mereka bertemu dengan warga lokal, dan dibawa ke perkampungan terdekat untuk mendapatkan pertolongan dan mendapatkan perawatan seadanya di rumah sakit setempat.

Di tempat yang lain, tidak jauh dari lokasi hotel yang mereka tempati (yang pasti udah berantakan banget) si ayah, Henry Bennet, dan kedua anak laki-laki lainnya, Tomas dan Simon, juga sedang mencari si ibu dan Lucas.

Di rumah sakit, dengan begitu banyaknya korban dan minimnya tenaga serta peralatan medis, perawatan untuk Maria Bennet menjadi agak terbengkalai. Di tengah rasa sakitnya, Maria meminta Lucas untuk 'do something to help others' di rumah sakit itu - tempat yang begitu hiruk pikuk yang memerlukan lebih banyak lagi bantuan.

Kondisi Ibu Maria semakin parah (lukanya sudah terinfeksi parah dan waktu banjir, dia menelan banyak sekali partikel-partike yang terbawa banjir). Lucas semakin putus asa ketika tidak menemukan ibunya di ranjang rumah sakit (beneran deh. Saat itu nggak ada yang ngasih tau dimana dan gimana kondisi ibu Maria) dan harus tinggal di tenda anak-anak. Di tempat yang lain, Pak Henry stress dan menangis hampir putus asa karena nggak berhasil juga menemukan istrinya dan anak sulungnya. Apalagi hampir kehilangan kontak dengan kedua anak-anak lainnya (Simon dan Lucas) ketika mereka dipindahkan ke camp anak-anak, dan nggak ada informasi lebih jelas tentang lokasi camp itu.

Nothing is more powerful
Than the human spirit

Kalimat yang dicetak di official poster filmnya. Penonton dibawa hanyut ke pengalaman mengerikan waktu tsunami terjadi. Rasanya ngilu banget melihat luka di sekujur tubuh Maria - apalagi di kakinya. Rasanya sesak banget melihat Henry tersedu-sedu ketika menelpon saudaranya. Rasanya menyayat banget mendengar jeritan Simon dan Tomas di camp pengungsian di dekat rumah sakit. Rasanya . . . . . . . . .
Aahhh.. betapa beruntungnya kita saat ini yang cukup sehat untuk mensyukuri keberadaan keluarga di dekat kita.


Keep your spirit alive,

WiRani

Sunday, December 30, 2012

Rise of the Guardians - Hope, Beliefs, Imagination

Lagiiii...
Desember 2012 ini emang lagi banjir film-film keluarga yang bisa masuk daftar buat ditonton :D

Sekarang, filmnya adalaahhh (teteretteteeet....)

 
 
Film ini emang sasarannya buat anak-anak (ato semua umur?) menjelang liburan akhir tahun sih. Tapi karena resensinya menarik, masuk nominasi penghargaan bergengsi Golden Globe sebagai BEST ANIMATED MOVIE, and of course because I love animated movie, langsung deh meluncur ke XXI :D

Ada tokoh-tokoh guardian seperti :
North - The Santa Clause is more than a legend
Bunnymund - The Easter Bunny is more than a fable
Sandy - The Sandman is more than a dream
Tooth Fairy - is more than a fairy tale
dan yang paling (ehm...) ganteng : Jack Frost -  is more than a myth


Kisah dimulai dengan "bangkitnya" Jack Frost dari kebekuan danau es. Nggak ada penjelasan apa-apa dari Man in the Moon soal ini selain bilang kalo dia adalah Jack Frost. Sudah. Dan ini bikin Jack agak frustasi karena dia sama sekali nggak inget siapa dia di masa lalu, dan apa yang terjadi sebelum dia menjadi Frost.

Petualangan selanjutnya dimulai ketika Jack menghabiskan waktu untuk bermain-main dengan tongkatnya yang bisa membekukan apapun.. iiihh, asik banget yaa. Skalian bisa jahil ke anak-anak, hehehe.. It was fun melihat anak-anak kegirangan bermain di arena ber-es. Tapi... ternyata, kehadiran Jack tidak dirasakan oleh anak-anak tadi, karena Jack nggak kelihatan.

Para pengisi suara di film ini
The Guardians adalah tim yang menjaga harapan dan impian anak-anak tetap menyala. Keep the spirit alive. Impian dan harapan anak-anak adalah kekuatan bagi the Guardians agar tetap hidup dan terus dapat membahagiakan anak-anak

Akan selalu ada tantangan ketika kita mau menyebarkan kebaikan. Begitu juga yang dihadapi the Guardians ketika datang the Boogieman alias Pitch Black yang mau menghancurkan impian dan harapan anak-anak. Senjata yang dia punya : MENYEBARKAN KETAKUTAN.

Banyak cahaya harapan anak-anak yang padam. Hampir anak menyerah dengan ancaman dan ketakutan yang disebarkan oleh si Pitch. Inilah yang diperjuangkan The Guardians, dan anak-anak yang masih memiliki keyakinan dan semangat, agar anak-anak bisa kembali MEMILIKI IMPIAN dan HARAPAN.


Yang paling touchy dari naskahnya adalah waktu si kecil Jamie (satu-satunya anak yang nggak menyerah untuk mempercayai adanya harapan - adanya The Guardians) maju dan menantang si Pitch :
"Aku tahu kamu (baca : ketakutan) ada. Tapi aku nggak takut"

Duarrrr...........

Keyakinan dari seorang anak yang memiliki harapan ini mengembalikan kekuatan The Guardians, dan berhasil mengalahkan Pitch dan pasukan kegelapannya. This legend ended with a victory for the Guardians and the kids.

Nggak ada yang salah dengan memiliki impian dan harapan. Nggak salah juga kalau merasa takut dan hampir menyerah dengan keadaan yang nggak mendukung.

BECAUSE HOPE, BELIEFS, AND IMAGINATION KEEPS THE SPIRIT ALIVE.

So, what's you dream for the upcoming year 2013?

Cheers,
WiRani

Thursday, December 27, 2012

Merry Riana - Perjuangan, Tantangan, dan Anugerah

Pagi ini dapet inspirasi touching heart dari Sang Pemimpi 1 juta dollar : Merry Riana.
 
Dengan suara lantangnya, beliau mengatakan ini :

Hidup adalah . . . .

Perjuangan yang harus dimenangkan
Tantangan yang harus dihadapi
Anugerah Tuhan yang harus disyukuri

Bukan karena hari ini indah maka kita bahagia,
tapi karena kita bahagia maka hari-hari kita menjadi indah.

Bukan karena tidak ada rintangan maka kita optimis,
tapi karena kita optimis maka rintangan itu tidak terasa.

Bukan karena hal itu mudah maka kita yakin kita bisa,
tapi karena kita yakin kita bisa, maka hal itu menjadi mudah

Kuatkan pikiran, berani bermimpi besar.
Kuatkan hati, jangan pernah menyerah.
Kuatkan iman, apapun kepercayaan Anda. Sertakan Tuhan dalam hidup Anda.

Kalau seorang Merry Riana bisa,
dengan doa dan usaha, Anda juga pasti bisa mewujudkan mimpi 1 juta dolar Anda.


Salam.

Monday, December 17, 2012

Lelah - Maka Beristirahatlah

Pertengahan Desember 2012

Kala sedang lelah, ambilah waktu untuk beristirahat.
Sungguh!

Paduan antara lelah tubuh dan lelah pikiran akan sangat mudah memancing emosi.
Kalau sudah kelelahan, tidak ada lagi tersisa energi untuk mengendalikan emosi.

Emosi berupa lengkingan amarah.
Emosi berupa sedu-sedan dan tangis.

Maka, rehatlah.
Percayalah! Tidak akan ada yang hilang; kecuali energi negatif dan rasa kelelahan itu sendiri.
Undur diri beberapa saat akan memulihkan energi positif di pikiran dan tubuh.

Maka, beristirahatlah.
Limou juga lagi istirahat

Saturday, December 1, 2012

Hotel Transylvania - The Overprotective Father

Official Poster of Hotel Transylvania the movie


Ini salah satu film kerennya Adam Sandler lagi. Selain karena ada Om Sandler, pengen nonton juga karena 'penasaran' sama Selena Gomez, hehehe..
Ini nih para pengisi suara di film ini :


Dari 7 orang di atas, cuman 'mengenali' Selena Gomez & Adam Sandler doang :p

Singkat cerita,

Mr. Drac membangun sebuah hotel mewah dengan segala fasilitasnya di sebuah tempat antahberantah yang tidak terjangkau manusia. Hotel ini KHUSUS untuk ... hmm.. untuk apa ya? Pokoknya untuk mahluk sejenis skeleton, serigala, frankenstein, mumi, dan sejenisnya gitu deh..
Ternyata ada misi tersembunyi dari Mr. Drac dalam membangun semua kemewahan ini. Semua dia lakukan hanya untuk anaknya, Mavis.

Mamanya Mavis udah meninggal waktu Mavis masih kecil. Jadi Mavis sama sekali nggak punya kenangan tentang Ibunya, kecuali dari 'warisan' yang udah disiapkan Ibunya untuk kado ulang tahun Mavis.

Saking sayangnya Papa Drac ke Mavis, hampir semua yang Mavis pengen akan dikasih. Kecuali satu hal : pergi melihat dunia luar. Berbagai alasan dikemukakan Mr. Drac agar Mavis urung pergi, dan nggak minta ijin lagi buat jalan-jalan (ehh.. maksudnya 'terbang'. They're a dracula).

Sikap Mr. Drac yang overprotective itu sebenarnya cukup beralasan mengingat di masa lalu ada kejadian sangat buruk menimpa keluarga mereka. Semuanya bersumber dari 'kejahatan' manusia. Penasaran nggak? Tonton film-nya deh.. Biar makin asik :D

Walo akhirnya Mavis nurut sama Papahnya, tapi di lubuk hati terdalam dia ngrasa kesepian. Ngrasa sendiri. Nggak punya temen sebaya yang bisa diajak haha-hihi bareng-bareng. Ngrasa kosong.

Sampe suatu hari, secara nggak sengaja ada manusia yang nemuin hotelnya Mr. Drac. Entah kenapa jadi sulit banget buat Mr. Drac buat 'ngusir' Jonathan dari hotelnya. Apalagi pas pertama kali Mavis ketemu Jonathan, mata mereka sama-sama "clink" .

Lagi, kali ini Mr. Drac berusaha lebih keras untuk menghindarkan Mavis untuk kontak dengan manusia. Kali ini usahanya bener-bener optimal banget, sampai ngorbanin kenyamanan penghuni hotel dan membohongi beberapa kawan baiknya.


Adegan-adegan ringan dan kocak khas Adam Sandler bener-bener kerasa banget deh. Apalagi ada beberapa scene berdekatan yang rasa-rasanya paduan dari film "The Wedding Singer"  dan  "Breaking Dawn". Romantisme dari film "The Wedding Singer" yang ditingkahi celotehan lucu dari scene "Breaking Dawn" tuh bener-bener adegan yang menghibur banget. It's so Adam Sandler deh pokokny.

Mesti ditonton nih sama penggemar Adam Sandler, dan juga penggemar vampire :p

Oh iya, sepulang dari nonton film ini, saya jadi merasa kasian sama "Mavis-Mavis" masa kini yang ada di sekitar saya. "Mavis" yang dilarang ini-itu oleh orang tuanya (bisa mamanya, bisa papanya), yang hidupnya diatur 100% oleh orangtuanya, dan yang baik dan buruk hanya bersumber dari orang tuanya. Semoga Papa dan Mama Drac masa kini segera tobat deh; atau paling nggak nonton film ini bareng anak-anaknya ^^

Cheers,

WiRani


My First Choir Festival

I'm not good at reading a musical score.. Huaaa... :p

Tapi yaa.. segala sesuatu bisa dipelajari kok.
Iyaah, saya masih tetep belum lancar baca partitur lagu.
Tapi yaa.. seminggu 2x masing-masing 1,5-2 jam, akhirnya bisa lancar juga bawain lagu yang dinyanyiin sama Tim Paduan Suara GKP Bandung.
Nih video-nya waktu tryout di  akhir November :




Dan yang bikin aku makin semangat (sekaligus deg deg serrr),
karena ini adalah MY VERY FIRST TIME TAKING PART ON CHOIR FEST..
#whosaaaaaaaahhhhhh.....

Yang ada di pikiranku adalah gimana caranya besok bisa tampil sesuai dengan arahan waktu latihan, dan bisa nyanyi dengan baik, sukacita, dan menyenangkan yang mendengar (terutama Sang Maha Merdu).

Sama sekali nggak bermaksud mengecilkan hati rekan-rekan yang lain atau siapapun, tapi beneran deh.. Aku ngrasa "kecil" dibanding semua keindahan yang udah Tuhan kasih di hidupku. Talentaku yang diasah di tim paduan suara ini salah satu alat buatku untuk belajar rendah hati dan menyerahkan hasilnya ke Sang Juri Agung.

Daannnn.... Sabtu, 1 Desember 2012 di GKP Lembang,
Ketika oleh Tim Juri Pesparawi memberi penghargaan kepada Tim Paduan Suara GKP Bandung sebagai Juara ke-2 itu rasanyaa..... haaaaaaaaaaaa..
Yaaa, gitu deh :)
Tim Paduan Suara Pesparawi Klasis Priangan dari GKP Bandung

It was amazing experience, and such an amazing grace ^^

Regards,
WiRani



Monday, October 29, 2012

Perempuan Bijak dan Bermartabat - part 1


Ini dia, salah satu perempuan inspiratif dari Indonesia.
Sebenarnya beliau bukan hanya sekedar inspiratif. Namun terdapat kekayaan tak ternilai dalam lakunya yang sederhana.

Sang Srikandi di masa tuanya

Disarikan dari Biografi Inggit Ganarsih: Perempuan Dalam Hidup Soekarno[1]


Perempuan Bermartabat

Banyak dari kita yang mengagumi sosok sebagai Presiden RI, perintis gerakan Non-Blok, Don Juan yang selalu dikelilingi perempuan cantik, dan orator yang terkenal di seluruh dunia. Namun berapa banyak yang mengetahui perjuangan penuh liku dan kerikil tajam yang ia tempuh sebelum mencapai kesuksesan? Siapakah penyokong terbesarnya?

Sejarah mungkin telah meredupkan nama Inggit Garnasih, istri  yang paling berjasa menghantarkannya ke gerbang kejayaan. Buktinya, saya sama sekali tidak tahu, tidak ingat pernah mendengar nama itu sebelum diberi tahu Mbak Niken dan dipinjamkan biografinya. Setelah baca biografinya, saya berpikir, kok bisa sih perempuan sehebat ini tersembunyikan dari pelajaran sejarah Indonesia? Yang saya tahu, istri Soekarno ya Fatmawati, yang (dibandingkan dengan perjuangan Inggit) ‘hanya’ menjahitkan bendera pusaka merah putih itu. Satu lagi, Dewi  (karena terkenal kecantikannya). Tujuh lainnya saya tidak tahu. Inggit is the real Indonesian first lady.

Penulis menceritakan kisah ini dengan cantik dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Saya terhanyut dalam perjuangan, dan romantisme kisah cinta mereka. Terutama pengorbanan luar biasa yang diberikan Ibu Inggit dalam 20 tahun perkawinan mereka. Antara lain:
  • Banting tulang membiayai rumah tangga dan kuliah.
  • Membiayai kegiatan-kegiatan politik Soekarno, termasuk menyediakan makan para pemuda rekan-rekan Soekarno yang sering berdiskusi di rumahnya.
  • Melayani Soekarno lahir batin; membuatkan jamu, memijiti saat lelah dan sakit, memberi semangat saat jiwa Soekarno lemah dan putus asa.
  • Setia mengunjungi, membawakan makanan, buku, uang saat Soekarno dipenjara, meski jarak 20 km harus ditempuh dengan berjalan kaki.
  • Ikut serta bahkan membawa Ibunya sebagai tim yang mendampingi Soekarno saat diasingkan ke Ende, dipindah ke Bengkulu, Padang, lalu kembali ke Jawa

Soekarno saat itu sulit menggunakan ilmu arsitekturnya karena ia tidak sudi bekerja di bawah pemerintah Belanda, sehingga uang yang dihasilkannya hanya dari honor menulis di koran-koran. Sedangkan Inggit? Apapun ia kerjakan demi membuat suami kesayangannya, tetap menjadi singa podium yang gagah mengaum. Membuat bedak dan lulur, meracik jamu, menjahit baju, menjual kutang, bedak, rokok, dan menjadi agen sabun dan cangkul meskipun kecil-kecilan. Ia bahkan menggadaikan perhiasan, dan menjual tanah peninggalan orang tuanya demi membiayai hidup di pengasingan. Ialah ibu, kawan, kekasih bagi Soekarno.

Lalu tibalah saat yang telah ditentukan Sang Khalik. Tahun 1943, saat Soekarno hampir mencapai puncak kejayaannya. Ia berusia 40 tahun sedang Inggit 53 tahun. Jiwa lelakinya kembali muda, ia ingin memiliki keturunan, yang memang sulit didapat dari Inggit. Yang paling menyakitkan, keinginan ini dipicu oleh ketertarikan Soekarno pada anak angkat mereka, Fatmawati. Ia cinta Fatma, sekaligus menyayangi Inggit. Namun prinsip yang dipegang erat oleh keluarga Inggit, pantang dimadu. Akhirnya terjadilah perceraian itu, saat segalanya telah Inggit berikan. Ia dikembalikan ke pangkuan keluarga dengan membawa dua batu ceper yang selalu ia gunakan membuat bedak dan lulur guna menyambung hidup.

Waktu berjalan, masa berganti. Persembahan cinta Inggit yang agung seakan memudar dan terlupakan. Indonesia merdeka dan memberi kekuasaan tertingginya pada Soekarno, saat Fatmawati menjadi istrinya. Lalu belasan tahun kemudian, saat anak-anak (yang menjadi alasan perceraian Soekarno-Inggit) telah lahir dari Fatmawati, hati Soekarno menjelajahi perempuan-perempuan cantik lain yang dinikahi selang satu sampai tiga tahun saja. Sebutlah Hartini, Dewi, Kartini, Haryati, Yurike, dan Heldy. Entah karena alasan apa, mungkin hanya karena ia adalah pencinta perempuan. Sesederhana itu.

Simaklah bagaimana Inggit menguatkan Soekarno di saat-saat paling lemah dalam hidupnya. Setelah lulus dan terlibat pergerakan politik, pemerintah Belanda menganggapnya sebagai ancaman sehingga Kusno ditangkap, dipenjara di Bantjeuy. Kemudian ia dipenjara lagi di Sukamiskin. Praktis, ia tidak bisa menghidupi keluarga. Justru Inggitlah yang memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus kesejahteraan Soekarno di dalam penjara.

Lalu saat di pengasingan di Ende, Soekarno terjangkit malaria. Saat itu, kondisi jiwa Soekarno sangat lemah. Berkali-kali ia mengeluh kepada Inggit. Ia pernah berucap keinginan untuk mebuat taktik berpura-pura bekerja sama dengan pemerintah agar segera kembali ke Jawa. Inggit sebaliknya menolak dan memandang Soekarno berjiwa lemah.

Saat Ibu Inggit menemui Soekarno terakhir kalinya di dalam peti jenazah, ia berucap, “Ngkus (Kusno: sapaan Inggit bagi ), geuning Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun..”. Dan itu bukanlah bukti terakhir cinta Inggit pada Soekarno. Tahun 1980 saat berita mengenai kelemahan politik Soekarno mencuat, Ibu Inggit memberikan sanggahannya pada wartawan yang mewawancarainya.

Istri-istri Soekarno mencicipi manisnya kehidupan di istana, diberi rumah di Kebayoran, Slipi, Gatot Subroto, sementara Inggit hanya mampu menatap puing-puing rumah panggung di Jalan Ciateul yang penuh memori kebahagiaan, kesengsaraan, dan perjuangan bersama Kusno kesayangannya. Kamar dan rumahnya begitu sederhana. Harta miliknya hanyalah radio Philips buatan tahun 1949, sebuah foto Bung Karno tersenyum manis, sebuah teropong dan perangkat makan sirih serta sebuah pispot. Ditambah dua buah balai-balai dan sebuah lemari kayu murahan.

Rasanya tidak berlebihan kalau berpikir, ‘Tanpa dukungan Ibu Inggit, mungkin tidak akan ada putra terbaik bangsa yang kemampuan dan kharismanya diakui di berbagai negara. Mungkin sekarang kita masih akan sengsara dalam penjajahan’. Dan saya tidak tahan untuk tidak berpikir, ‘Di antara sekian banyak istri Soekarno, siapakah yang akan dipilihnya menjadi permaisuri di akhirat nanti?’ 

Lalu satu lagi, ‘Seandainya Soekarno memiliki keturunan dari Ibu Inggit, akan jadi sehebat apakah dia?’

Sang Srikandi muda bersama Sang Proklamator
Inggit Garnasih

  • Lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 17 Februari 1888
  • Meninggal di Bandung, Jawa Barat, 13 April 1984 pada umur 96 tahun. Inggit adalah istri kedua , presiden pertama Republik Indonesia.
  • Mereka menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung.
  • Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda.
  • Sekalipun bercerai tahun 1943, Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap , termasuk melayat saat  meninggal.
  • Kisah cinta Inggit-  ditulis menjadi sebuah roman yang disusun Ramadhan KH yang dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang.

Arti nama Inggit Ganarsih

Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman- temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Di antara mereka beredar kata- kata, "Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.” Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata- rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan "Inggit" yang kemudian menjadi nama depannya.




[1] Resensi buku “Perempuan dalam Hidup  : Biografi Inggit Ganarsih”, Ombak, 2007.