Thursday, August 22, 2013

William itu Menyebalkan! Kok bisa juara Master Chef Indonesia Season 3?!

William itu super nyebelin!
Songong,
sok keren,
sok jago,
belagu,
tengil,
over cooked - eh, over convidence.
Arrrggg.... Coba liat foto di samping deh -->

Di Galeri "Road to Top 10", makin keliatan semua tabiat-tabiat di atas. Semakin sering ngomong besar. Yang setuju ngacung. Tapi yang bikin heran, apa yang dia ucapkan, pasti dia buktikan. Bakal lolos tantangan ini-itu, bakal masuk sekian besar, bakal ngalahin si A si B, dan masih banyak contoh lain pembuktian ucapannya. Malah sering juga banget dapet pujian dari 3 juri pulak. Iya kan? Terus yang bikin saya makin penasaran, kok dia melajuuu terus sampe babak 3 besar?! Yang akhirnya juga mengantar dia ke babak Grandfinal; battle with Brian.

   Road to Grandfinal, RCTI menyajikan acara spesial yang mengulas lebih dalam tentang profil kedua grandfinalis. Di sinilah, penilaian saya soal William berubah 180 derajat. Iya beneran. Bener-bener berubah.


   Foto di atas itu momen paling canggung dari semua adegan; tapi bisa mencairkan kebekuan relasi ayah-anak selama (mungkin) bertahun-tahun.
William cerita kalau sejak SMP dia udah punya passion ke dunia masak, dan pengen menekuni dunia ini. Tapi sayang, sang ayah menentang keinginan William. Sang Ayah inginnya William melanjutkan bisnis keluarga; itu yang membuatnya terpaksa kuliah managemen - walaupun hanya bertahan selama 3 semester. Karena hatinya mantap dengan dunia kuliner, William akhirnya bertekad mengambil sekolah kuliner. Ini yang menjadi bekalnya mengikuti kompetisi masak terbesar di Indonesia.
   Oh iya, foto di atas adalah saat sang ayah akhirnya memberi restu atas pilihan William. Restu dan ikhlas mendoakan putranya untuk menjemput impian di dunia kuliner. Bertahun-tahun kaku, canggung, dan renggang, hari itu sang ayah memeluk putranya. What a moment.

Momen kemenangan William sebagai Juara 1 Master Chef Indonesia Season 3
   Sekarang aku tahu, kenapa William keliatan sombong dan songong. Dia hanya ingin menjadi lebih tough dalam menjalani pilihan hidupnya. Dia harus mempertahankan mimpinya walau harus menghadapi penolakan dari ayahnya. Kalau dia nurutin apa kata ayahnya, mungkin dia akan berelasi lebih baik dengan ayahnya. Tapi apakah itu menjamin kebahagiannya? Dengan bulat hati, William mengikuti kata hati untuk berproses dengan passionnya.
   Sosoknya yang terkesan omong besar, itu ternyata pecutan bagi diri sendiri bahwa dia bisa. Ngebuktiin kalau dia nggak OMDO alias omong doang. Dia bilang dia akan bikin masakan yang enak, dia kasih bukti kalau makanannya enak. Dia bilang akan memenangkan kompetisi ini dengan poin yang jauuuh di atas Brian, sekali lagi dia juga buktiin ucapannya.
   Setiap ucapan yang dia keluarkan, berbanding lurus dengan usaha yang dia kerjakan. That what makes him a winner.
   
   Terus jadi ngaca juga nih.
   Kita semua juga pasti pernah dapat penolakan kan? Entah penolakan dari orang asing, atau bahkan penolakan dari keluarga sendiri. Sekuat apa kita mempertahankan kata hati kita? Sekuat apa kita memperjuangkan mimpi kita? Sekeras apa usaha kita untuk mewujudkan mimpi kita?
   Nggak ada yang tahu sebulat apa tekad kita. Orang hanya melihat luarnya saja. Tapi ketika perbuatan yang kita lakukan mencerminkan ucapan kita, orang akan melihat tekad kita.
   Mulai sekarang, siapkah untuk lebih mengeraskan tekat untuk mengejar dan mewujudkan mimpi masing-masing?




Sumber seluruh foto : MasterChefIndonesiaOfficial Facebook acc

Wednesday, July 24, 2013

Aku meminta kepada Tuhan untuk . . . . .

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Itu bukan untuk Ku singkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan cacatku.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Jiwa adalah sempurna, tubuh hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkan aku kesabaran.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Kesabaran adalah hasil dari kesulitan. Itu tidak dihadiahkan, tetapi dipelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberi aku kebahagiaan.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Sebab penderitaan akan menjauhkanmu dari perhatian-perhatian duniawi meskipun membawamu mendekat kepadaKu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rohku.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas supaya membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
   Tuhan menjawab, "TIDAK!"
   Aku hanya akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan untuk membantuku mengasihi orang lain, seperti Dia selalu mengasihiku.
   Tuhan menjawab, "Aaahh... Akhirnya kau mengerti."
   Bagi dunia, kau mungkin hanyalah seseorang.
   Tetapi bagi seseorang, kau mungkin adalah dunianya.
   Hari ini adalah milikmu, dan karena itu jangan sia-siakan.



(sebuah tulisan inspiratif dari suatu tempat yang tak disangka)

Monday, July 22, 2013

"The Parable of the Pipeline" by Burke Hedge

Sumber gambar : True Leverage

Yuuk kita santai sejenak, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan, ulangi beberapa kali...
Lalu bacalah kisah dibawah
Kisah Pablo dan Bruno di sebuah lembah di Italia tahun 1801

==================================================

Pada jaman dahulu kala, ada dua saudara sepupu yang sangat ambisius.
Yang pertama Pablo dan yang kedua Bruno, mereka tinggal berdampingan di sebuah desa kecil di Italia.

Kedua orang itu merupakan anak-anak muda yang berkualitas dan memiliki cita-cita yang tinggi, mereka juga sering berkhayal bagaimana jika suatu hari nanti menjadi orang terkaya di desanya.  keduanya orang yang sangat cemerlang dan tekun bekerja, yang mereka perlukan hanyalah kesempatan.

Pada suatu hari kesempatan itu pun datang.  Kepala desa memutuskan untuk mempekerjakan dua orang untuk membawa air dari sungai ke sebuah penampungan air di tengah desa itu.

Keduanya segera menuju sungai dan membawa ember masing-masing 2 buah.  Menjelang sore hari, keduanya telah mengisi penampungan air sampai mencapai sisi-sisi permukaannya.  Kepala Desa menggaji mereka masing-masing berdasarkan jumlah ember air yang mereka bawa.

"wah, ini berarti cita-cita kita terkabul!" seru Bruno. "saya tidak bisa percaya bahwa kita bisa mendapat rejeki sebanyak ini."

Tapi Pablo tidak ingin yakin begitu saja.  Punggungnya nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet.  Akibat membawa dua buah ember yang berat.  Keesokan paginya, ia merasa takut saat harus pergi kerja. Karena itu, ia berfikir keras mencari akal bagaimana caranya membawa air dari sungai ke desanya.

"Bruno saya punya rencana," kata Pablo keesokan harinya saat mereka mengambil ember-ember dan berangkat menuju ke sungai. "daripada kita mondar-mandir membawa-bawa ember hanya untuk mendapatkan beberapa penny per hari.  kenapa kita tidak sekalian saja membuat sebuah saluran dar sungai ke desa kita."

Bruno menghentikan langkahnya seketika.  "Saluran pipa! ide darimana itu?" seru Bruno. 'kita kan sudah mempunyai perkerjaan yang sangat bagus, Pablo. saya bisa membawa membawa 100 ember sehari, dengan upah 1 penny/ember, berarti penghasilan kita bisa 1 dolar/hari. pada akhir minggu saya bisa membeli sepatu baru, pada akhir bulan saya bisa membeli seekor sapi dan dalam 6 bulan saya bisa membangun sebuah gubuk baru.  Kita akan kaya! jadi buang jauh-jauh pikiran untuk membangun saluran pipa itu."

Tapi pablo tidak putus asa.  Ia dengan sabar menerangkan tentang rencana pembuatan pipa salurannya kepada Bruno.  Pablo memutuskan untuk bekerja paruh waktu, dari senin-jumat separuh waktu dia bekerja mengangkut ember, separuh waktunya untuk membangun saluran pipa.  pada akhir pekan dia bekerja penuh untuk membangun saluran pipa.

Dari awal, dia sudah menyadari bahwa akan sulit baginya untuk menggali saluran di batu karang, karena hanya bekerja separuh waktu mengangkut ember maka penghasilannya pun otomatis menurun. Dia paham akan membutuhkan 1-2 tahun sampai saluran pipanya selesai.  Tetapi Pablo fokus pada impian dan cita-citanya, karena itu dia terus giat bekerja.

Sementara itu Bruno yangberpenghasilan 2 kali lipat dari Pablo, terus membangga-banggakan barang-barang barang-barang baru yang telah berhasil dibelinya.  ada keledai yang dilengkapi sadel kulit baru, diparkir di samping gubuk barunya yang punya 2 lantai.  Dia juga membeli baju-baju indah dan makan mewah di kedai desa.  Dia selalu mentraktir warga desa yang menyambutnya di bar untuk minum dan berkelakar.

Sementara Bruno hanya bisa berbaring di Hammock di sore hari dan tetap bekerja pada hari pekan.  pablo terus menggali saluran pipanya.  Pada bulan-bulan pertama, Pablo memang tidak bisa menunjukan hasil dari usahanya, saking beratnya usahanya dia juga bekerja sampai malam hari.

Tapi Pablo selalu mengingatkan diri sendiri bahwa cita-cita masa depan dibangun berdasarkan pada perjuangannya hari ini..dia pun semangat menggali batu karang inchi demi inchi.  Dari 1 inchi kemudian menjadi 1 kaki, kemudian menjadi 10 kaki, kemudian 20 kaki , 100 kaki dan seterusnya....

"bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian," kata-kata itu selalu dicamkannya saat ia kembali ke gubuknya dan menghempaskan tubuhnya yang lelah di kasurnya.  meski lelah dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang akan dicapainya.  caranya setiap hari dia menetapkan target yang akan dicapainya hari itu, lalu dia akan bekerja keras untuk mencapainya, dia yakin bahwa hasil yang akan dicapainya akan jauh lebih besar daripada perjuangan yang dilakukannya.

Hari berganti bulan, pada suatu hari Pablo menyadari bahwa saluran pipanya sudah setengah jalan, berarti dia hanya perlu bekerja setengah jalan lagi, saat beristirahat Pablo melihat saudaranya Bruno masih terus mengangkut ember-ember.  Bahu Bruno tampak semakin lama semakin bungkuk, langkahnya lamban akibat bekerja membawa beban selama  berbulan-bulan.  Bruno terkadang sedikit pesimis, bahwa dirinya akan ditakdirkan terus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.  Bruno tidak lagi minum-minum di bar, dia lebih sering duduk sendiri dis udut rumahnya sambil ditemani botol-botol kosong.

Akhirnya saat bahagia Pablo pun tiba, saluran pipanya rampung!  orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa.  sekarang desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap.  bahkan orang-orang yang tinggal di desa lain mulai pindah ke desa itu, membuat desa itu semakin tumbuh berkembang dan makmur.

Setelah saluran pipa selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember.  Airnya akan selalu mengalir, kapanpun saat dia bekerja ataupun tidur, semakin banyak air mengalir ke desa semakin banyak uang yang mengalir ke kantong Pablo.

banyak orang memuji pablo atas keberhasilannya, Tapi Pablo paham bahwa yang ia capai bukanlah suatu keajaiban, dia mendapatkannya karena kerja keras.

kini Pablo yang sudah sukses mendatangi saudaranya Bruno, untuk mengajaknya membangun saluran ke seluruh wilayah.  Jika sendirian Pablo membangun saluran pipa dalam masa 2 tahun, maka dengan bantuan Bruno pekerjaan membuat saluran akan menjadi jauh lebih cepat, apaalgi kini Pablo telah paham alat-alat apa yang digunakan, titik mana yang harusnya di gali dan dihindari, juga paham pipa-pipa yang harus dipasang.

Tahun-tahun berlalu Pablo dan Bruno sudah pensiun, usaha saluran pipanya terus mengalirkan uang ke tabungan mereka,mereka hidup bahagia tercapai sudah impian-impian mereka bahkan melampui dari yang mereka pernah impikan sebelumnya.

==================================================

Setelah membaca kisah tadi, coba renungkan kita sekarang ada di jenis mana.
Kita sekarang ini apakah Bruno si pembawa ember atau Pablo si saluran pipa?
Kalau kita amati, kita hidup masih didominasi oleh mental pembawa ember.
Jika ditawari kesempatan membangun saluran pipa maka mereka akan menolak,
"Cuma mereka yang lebih dahulu terjun membangun saluran pipa yang akan sukses!"
atau kalaupun mau membangun saluran pipa akan balas bertanya,
"Tapi harus mencangkul ya? Saya gak bisa mencangkul!"
Padahal Pablo sudah menjelaskan bukan,
dengan membangun saluran pipa oleh banyak orang pekerjaan akan lebih cepat diselesaikan,
apalagi Pablo sudah memahami ilmu membangun saluran saluran pipa.

Dari hikmah kisah di atas, saya yang semula rajin membawa-bawa ember,
mulai memikirkan untuk membuat saluran pipa,
karena saya berfikir ember-ember yang saya bawa
tidak akan mampu memenuhi pencapaian mimpi-mimpi saya.
Supaya saluran pipa saya cepat rampung
saya harus menghubungi orang-orang yang sudah ahli membuat saluran pipa.
Karena saya yakin dengan bergabung dengan para ahli pembuat saluran pipa,
mimpi-mimpi saya akan segera tercapai.

Dalam hal ini saluran pipa saya adalah d'BC Network Oriflame.
Memang banyak yang menawarkan saluran pipa yang lain,
tapi hanya d'BC Network yang mempunyai peralatan ajaib namanya "e-pipeline" (saluran pipa internet).
e-pipeline ini sungguh luar biasa dalam hal efisensi waktu.
Kegiatan 'mencangkul' batu karang yang sedianya dilakukan dalam 100 jam,
bisa diefisenkan hanya dengan 1 jam.

Kini e-pipeline dBC Network saya mulai menampakkan hasil.
Di bawah bimbingan dan kerjasama para pembuat saluran e-pipeline lainnya di dBC Network,
perlahan-lahan saluran pipa saya mulai memanjang
dan mulai mengalirkan air sedikit-demi sedikit,
pada saatnya nanti (tidak terlalu lama) saluran akan terbangun dan rampung,
e-pipeline saya akan terus mengalirkan air meski saya pensiun nanti.

Saat ini saya masih bekerja keras membangun e-pipeline dan menduplikasi e-pipeline lainnya.
Jika kalian sudah lelah membawa-bawa "ember",
saatnya bergabung dengan saya membangun e-pipeline super canggih
yang akan mengalirkan air dengan deras.
Kalian tidak akan sendirian.
Kami semua di d'BC Network akan saling bekerja membantu
membangun salurannya sehingga mimipi-mimpi kita, apapun itu, bisa lebih cepat dicapai.


Mari bergabung dengan e-pipeline d'BC Network di sini
www.daftardbcn.com/?id=dreambigbiz

Salam online

WiRani
081809666432

Friday, April 26, 2013

Resensi Film - Iron Man 3



Poster Film Iron Man 3. Sumber : Wikipedia
Mr. Tony Stark masih mempesona dengan tingkah lakunya yang konyol nan jenius. Entah karena memang mengalami gangguan tidur, atau karena memang maniak utak-atik teknlogi persenjataan, jadinya ya sepanjang hari dia habiskan di ruang bawah tanah dengan pakaian-pakaian robot. Eksperimen ini eksperimen itu. Tentu dengan tabiat humornya yang tetap terkesan seksi :p

Dalam kilas balik yang dinarasikan Tony Stark, pada perayaan Tahun Baru 1999, dia dan kekasihnya waktu itu, seorang ilmuwan tanaman, Maya Hansen, dengan arogan menolak penawaran ide pengembangan tekonologi dari Aldrich Killian, seorang scientist pincang yang brilian.

Lagi, kali ini selalu saja ada orang-orang yang ingin merusak suasana tentram. Where there's a good boy, there's a bad boy as well. Pada masa kini, yang muncul menjadi musuh Iron Man adalah Sang Mandarin. Sesosok renta yang bicara dengan lantang kepada Pemerintah Amerika melalui siaran televisi nasional yang dibajak. Ancaman pembunuhan dan peledakan selalu dilancarkan oleh Mandarin.

Tanpa diduga-duga, Maya - sang kekasih masa lampau- berkunjung ke kediaman Stark dan bilang kalau Killian diduga bekerja untuk Mandarin. Belum sempat terjadi percakapan lebih lanjut, kediaman Stark dihancurkan oleh Mandarin melalui pasukan helikopternya. Maya dan Pepper selamat, tapi Stark diduga mati akibat serangan itu.

Selanjutnya...
Kasih tauuu nggak yaaaa? :D

Oke, mari kita lanjut kalau begitu.

Dengan bantuan sistem perencanaan penerbangan Jarvis, Tony mendarat di Tennessee - jauh dari Malibu. Karena kostum robotnya perlu di-charge, maka Tony dengan bantuan anak cerdas 10 tahun yang hobi mekanik juga, Harley, melacak keberadaan Mandarin yang ternyata berada di Miami.

Ternyata Mandarin adalahh.... urrgghh...
What a surprise. Silakan tonton deh film-nya..

Penyingkapan materi sosok Mandarin sebenarnya, peyanderaan Pepper oleh Killian, aksi Rhodes dengan kostum Iron Patriot-nya (kostum buatan Stark Industries yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata Amerika), hal-hal yang diperjuangkan Maya, pembajakan Air Force One, dan pengkhianatan Wakil Presiden menjadi adegan-adegan yang menguras emosi :D

Iron Man 3 masih layak diacungi jempol kok ^^

Have a great weekend pals,

WiRani

Friday, April 5, 2013

The Host - Versi Lain Alien di Bumi

Sumber gambar : Filmofilia.com

Melanie sebagai pemilik tubuh melakukan perlawanan atas jiwa alien yang hidup sebagai 'parasit' di tubuhnya. Sang Jiwa menamai dirinya Wanderer - Sang Pengembara.

Tubuh dan ingatan si manusia menjadi satu paket yang akan dialami dan dirasakan oleh Sang Jiwa ketika dia menempati tubuh manusia yang tertangkap oleh Para Pencari.

Sebelum tubuhnya diparasiti Wanderer, Melanie adalah seorang kakak yang sangat menyanyangi adiknya, Jamie, dan seorang kekasih yang mencintai lelakinya, Jared. Ketika bersembunyi di sebuah hotel, dia dikejar dan terkepung oleh Para Pencari. Tidak mau menyerahkan tubuhnya untuk dihinggapi jiwa alien, Mel memilih bunuh diri dengan melompat dari gedung. Entah kekuatan apa yang ada di dalamnya, Mel tidak mati. Hampir semua tulangnya patah dan organ tubuhnya rusak, tapi Mel masih hidup.

Pergulatan Mel dan Wanderer membawa mereka ke koloni manusia di tengah padang gurun. Koloni manusia yang tidak terdeteksi oleh Para Pencari, yang dipimpin oleh Jebediah, yang ternyata adalah paman Melanie.

Tidak mudah bagi koloni itu menerima tubuh Melanie yang dihuni jiwa alien - Wanda. Begitu Uncle Jeb memanggilnya. Menjadi tidak mudah juga untuk Melanie memberitahu kepada Uncle Jeb, Jamie, dan Jared bahwa dia masih hidup; terperangkap di tubuh yang sama dengan Wanda.

Walau Wanda dan Melanie diperbolehkan hidup bersama dengan koloni itu, tapi ancaman dari Para Pencari belum berakhir. Para Pencari masih terus mencari keberadaan manusia untuk dijadikan rumah bagi lebih banyak Jiwa.

~ ~ ~

Film ini memiliki citarasa berbeda dalam mengemas ide invasi alien ke planet Bumi. Tidak seperti film alien vs manusia yang sudah pernah tayang, di film "The Host" ini sutradara menyuguhkan scenes minim adegan berdarah, penuh dengan drama, minim juga adegan kebrutalan alien vs manusia.

Anda yang menentukan, apakah film ini patut mengisi di rak DVD film favorit Anda :)


 Happy weekend,

WiRani

Saturday, February 16, 2013

Resensi Buku : Kafe Etos Vol 1 (Jansen Sinamo)

Halaman depan buku Kafe Etos Vol 1
Sebelumnya saya belum pernah mengenal nama Jansen Sinamo. Tapi karena bulan Okober 2012 yang lalu kantor saya mengadakan Pertemuan dan Pembinaan dengan tema "Etika Profesi", jadilah saya yang pegawai kantor juga kecipratan tambahan pengetahuan soal "Etika Profesi" dari Bapak Jansen Sinamo ini.

Intermezo saja, ternyata nama "Sinamo" ini, kalau dalam adat Batak, masih bersaudara dengan "Naibaho". Berarti kalau dihubung-hubungkan, saya adalah kerabat jauuuuuh dari Pak Jansen ini. Suami saya kan dari kelurga Naibaho juga :D

Ok, back to the book.

Buku ini diterbitkan tahun 2006 oleh Institut Darma Mahardika. Buku 125 halaman ini memang terasa renyah seperti sebungkus wafer dan segelas cappucino hangat. Oleh penerbitnya, disebutkan begini, "24 Kisah Renyah untuk Memperkuat Etos Kerja Unggul."

Kalau biasanya bagian kata pengantar penulisnya saya lewatkan begitu saja :p, tapi kali ini rasanya kok sayang melewatkan ya. Pak Jansen menulis begini di bagian awalnya, "Kafe Etos. Untuk 126 juta Pekerja Indonesia." Saya pekerja, dan saya 'merasa' buku ini emang ditujukan buat saya ;)

Dimulai dengan kisah ilustrasi pertama tentang "Kumis Nasrudin", di saat bersamaan saya merasa geli dengan cerita ini, juga merasa ditegur juga oleh pesan etosnya. Pak Jansen ingin menyampaikan bahwa Etos 1 : kerja adalah rahmat : aku bekerja tulus penuh rasa syukur.

Cerita ilustrasinya begini :
"Suatu pagi Pak Nasrudin bangun dengan tergesa-gesa dan mulai panik. Ternyata dia mencium bau busuk dimana-mana. Di rumahnya, di kebun, bahkan ketika dia ke istana raja. Dia bilang ke Raja, "Celaka Baginda. Celaka!" Lalu Nasrudin melanjutkan kepanikannya sambil terus berbicara kalau bau busuk yang dia cium itu adalah tanda akan kiamat dan tanda bahwa Tuhan mulai menghukum dunia.

Setelah Nasrudin tenang, Baginda Raja menyuruh Nasrudin untuk mandi dan membersihkan diri. "Jangan lupa bersihkan kumismu juga," begitu perintah Raja. Aneh bin ajaib, setelah mandi, bau busuk yang sedari tadi dicium Nasrudin, hilang. Yang ada sekarang bau wangi saja. Usut punya usut, ternyata semalam, entah bagaimana ceritanya, ketika Nasrudin hampir nyenyak, anak bungsunya yang berusia 3 tahun memegang kotorannya sendiri lalu memoleskannya ke kumis sang ayah."
Deskripsi di halaman belakang buku Kafe Etos

Bener nggak, kalau kita sering melihat kalau dunia ini kotor? Ada kebusukan dimana-mana. Mungkin benar, mungkin tidak. Bisa jadi perasaan, penglihatan, dan penciuman semacam itu cuma disebabkan "kumis" kita yang cemar (hal.3)

Makanya, mandi dan membersihkan kumis menjadi penting buat kita supaya kita bisa membebaskan diri, hari, dan pikiran dari prasangka negatif dan kabar kabur sebelum kita menghakimi orang lain dan lingkungan kit. (Susaaaaahh banget ini. Bener nggak sih?)

Nah, selain kisah Nasrudin ini, masih ada 23 cerita lainnya yang nggak kalah manis dengan kopi susu buat menemani waktu istirahat kita.

Saya mendapat banyak manfaat dari buku ini. Semoga resensi singkat dari saya, juga mendatangkan manfaat untuk Anda.

Salam hangat,

WiRani

Friday, February 1, 2013

Lirik 'Galau' di PKJ - siapa bilang nggak boleh 'galau'?

Ternyata yaaa.....
Siapa bilang 'nggak boleh galau'?
Boleh kooookk.. Asaaalll..
Nah, ini yang penting :)

Ternyata saya nggak galau sendirian, hehe.. Ngrasa ada yang nemenin karena penulis lagu di Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) 133 melagukan perasaannya dengan kirik yang galau jugak :p
Jujur saja, beberapa minggu terakhir ini ada beberapa hal yang nggak sinkron antara hati dan kepala. Jadi lebih sering bikin sewot gitu lah.
Pernah juga kan sampai di titik yang sama, dan merasa .....  galau?

Ceritanya bermula ketika di hari Selasa pagi yang dingin, saya mengikuti kegiatan Doa Pagi di GKP Bandung. Tentu saja karena pengen curhat sama Sang Maha Mendengar, dan pengen didukung dalam doa juga. Sebelum syafaat, ada renungan yang diambil dari 1 Petrus 3 : 12.


Tahu labirin nggak? Pernah coba masuk ke taman labirin? Atau paling tidak menyelesaikan teka-teki labirin milik anak Sekolah Minggu :p
Sumber gambar : photohype.com
Kalau kita pernah coba masuk ke taman labirin, akan sangat mungkin kalau kita tersesat, menemukan jalan buntu, sampai akhirnya menyerah.
Tapi lain halnya kalau kita memecahkan teka-teki labirin yang ada di kertas. Kita bisa melihat jelas seluruh jalur labirin. Mulai dari garis awal, jalan buntu, hingga sampai ke garis akhirnya. Iya betul, semua terlihat jelas karena kita melihat dari atas. Kita melihat seluruh labirin dan isi labirin.

Sadar nggak, kalau kita hidup seperti di dalam labirin yang sangat besar?
Ada keputusan yang perlu kita ambil untuk menetukan arah.
Dalam prosesnya pasti akan menemui jalan buntu juga.
Lalu, sadar juga nggak sih, kalau ada juga yang Melihat kita dari Atas - yang mengawasi langkah kita, dan siap membantu kita melewati labirin kehidupan ini?
Lalu kenapa kita nggak meminta dan menyerahkan hidup kita kepadaNya agar dibimbing sampai ke garis akhir?
Sumber : sabda.org

Sebagai jeda syafaat orang per orang, dipilih lagu dari PKJ 133.

Tepat sebelum bait ke 3, saya mulai sesenggukan.
Pas yang lain menyanyikan bait 3, saya udah nggak bisa ngomong.
Mewek sodara-sodara :D

Rasanya tenggorokan saya penuh sesak sampai nggak bisa bersuara.
Seperti melihat pintu keluar dari labirin yang memusingkan :)


Jadiii.. siapa bilang 'nggak boleh galau'?
Siapa tahu dari kegalauan itu, malah jadi nemu kelegaan dan solusi.
Ya nggak?



Cheers,
WiRani