Friday, October 11, 2024

Asyhadu an laa

Disclaimer: Tulisan ini murni dari refleksi dan perasaan saya pribadi yang didasarkan atas pengetahuan saya yang terbatas dalam banyak hal.

Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik saya pagi ini, “Apa pendapatmu tentang situasi awkward kemarin saat seorang WNI muslimah yang mengajak WNA non-Muslim mengucapkan kalimat syahadat ‘Asyhadu an laa…’ ?

Sontak saya tersenyum kaget dan merespon, “Dia cuma lagi jadi orang Indonesia yang suka guyon aja kok.”

Sebelum lanjut dengan alasan saya menjawab seperti itu, silakan simak cuplikan dialog dari film komedi ini yang semoga bisa menjadi pembuka yang hangat untuk tulisan ini:

Tangkapan layar dari akun instagram @relaxitsjustreligion

KLIK DI SINI untuk mengarah ke postingan akun instagram.

Kalimat-kalimat berbahasa Arab itu tentu saja mengandung arti yang baik. Bahkan diucapkan dengan maksud baik dan dalam dalam konteks yang tepat pula. Dalam alam bawah sadar kita, kosakata Bahasa Arab biasanya hanya diucapkan oleh pemeluk agama Islam. Namun jika kalimat tersebut diucapkan oleh bukan pemeluk Islam, apakah mengurangi maknanya? Atau terdengar tidak serius? Atau bagaimana?

Refleksi pribadi ini juga bukan dalam rangka mereduksi prosesi seremonial dari agama tertentu dan menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Saya hanya mulai menyetujui sebuah gerakan yang rupanya belum cukup populer yaitu relaksasi beragama. Secara singkat, gerakan ini mengajak kita untuk rileks saja ketika membicarakan agama, karena setiap unsur budaya yang kita miliki, setiap kearifan lokal yang dipraktikan, memiliki unsur atau nilai spiritualitasnya masing-masing. Yang kerap terjadi, ketegangan beragama disebabkan hal-hal seperti politik atau ekonomi dan sebagainya.

Kembali pada pertanyaan di awal alinea tulisan ini, saya tentu melihat WNI tsb sedang menjadi dirinya sendiri yang sedang mencoba mencairkan suasana dalam percakapan santai di meja makan. Mungkin memang secara tidak sadar, ada misi dakwah untuk memperkenalkan Islam, tapi sependek penglihatan saya yang berada bersama dalam percakapan tersebut, tidak ada usaha lebih lanjut yang dilakukannya.

Mungkin di sinilah situasi awkward itu terjadi. Guyonan WNI muslimah itu tidak dimengerti oleh WNA non-Islam tersebut. Si WNA menunjukan raut wajah yang kebingungan tapi masih berusaha mengerti konteks itu karena melihat orang-orang lain di meja itu juga tertawa. Asumsinya adalah itu sebuah candaan, tapi karena hanya dia yang tidak mengerti guyonan itu, sepertinya dia merasa terzalimi.

Memang sulit mencegah orang lain untuk memiliki dan merasakan perasaan apapun. Namun jika diizinkan menjelaskan situasinya, saya akan dengan terbuka untuk mengajak si WNI agar lebih selow dengan candaan-candaan dengan konteks spesifik (inside jokes) ketika ngobrol dengan WNA. Juga, saya akan dengan telaten memberi pengertian kepada si WNA agar memandang ini sebagai prosesnya dalam berkenalan dengan kearifan lokal guyonan orang Indonesia. Karena, mengutip perkataan Presiden Republik Indonesia ke 4, Bapak Abdurrahman Wahid, “Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya bagian dari umat manusia dan alam semesta.”

 

Jumah berkah.

Saturday, July 1, 2023

Buried the Dead

Last week, an extraordinary event happened in the parking area of my church. While I practiced vocal group with my Sunday school children, a woman screamed in a panic to a boy among us, “Anton, let’s go and get in the ambulance!”
Picture: Gereja Kristen Pasundan Jemaat Cimahi

In short, Anton’s father passed away while he was waiting for Anton to finish Sunday school and going to take him home. It was all of a sudden. Anton had no idea that that morning was his last time greeting his father. As people witnessed, his father was sitting in the corner of the parking lot. Suddenly, he fell unconscious. There was a doctor in our church who quickly helped him and did an emergency procedure. A minute later, the doctor said, “He’s gone. There is no pulse.”

Picture source: counselingoneanother.com


Last night, I read the passage about ‘the Death of Sarah,’ Abraham’s wife. Just after I read the title, my memory flew to Anton’s experience last week. Anton is an 11-year-old boy. I did not see him cry at the burial. Maybe, he did not understand the concept of ‘pass away’ yet. However, his mother could not stop crying and mourning. She wept over her husband’s dead body. Similarly, Abraham did the same. He went to mourn for Sarah and to weep over her.

Death is one of the most certain things in this world. Abraham and Anton’s mother had already experienced the grief of losing their loved one. They were suffering. Mourning. I could not imagine the pain they felt because of this life reality, for I have never experienced the feeling yet of losing someone I love.

The event last Sunday and the passage I read remind me that God is absolutely the supreme Owner of our lives. When He wants us to come back to heaven, it will happen. Also, God provides help through people around us. Abraham was helped by the Hittites and Ephron the Hittite to provide the burial site for Sarah. Anton’s mother was helped by the church members to find out her husband had died and she received help during the funeral. God is the Owner, and God will provide assistance to lighten our burden.

Thursday, April 27, 2023

Jangan Panggil Aku “Ibu Pendeta”

Di atas adalah tangkapan layar dari Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Ada beberapa alternatif artinya, tapi kali ini mau bahas sedikit kaitan definisi nomer 3 dengan hidup saya. Dalam tradisi gereja Protestan, pendeta itu jabatan/posisi/amanah yang harus ditahbiskan. Lihat definisi nomer 1.
Baik, sejauh ini sudah dapat gambaran ya bagaimana posisi pendeta di jemaat/gerejanya? Sekarang mari melihat lagi ke judul. Informasinya adalah saat ini saya istri seorang pendeta. Beberapa belas tahun lalu, saya menikah dengannya saat BELUM menjadi pendeta. . Karena kebiasaan patriarki yang memanggil seorang istri dengan nama/posisi/jabatan suaminya, maka banyak pula anggota jemaat gereja yang memanggil saya dengan sebutan ‘ibu pendeta’. Terima kasih atas penghormatan dan kesantunan yang ditunjukan kepada saya dan keluarga saya. Tapi mari kita tilik lebih dalam tentang makna panggilan itu. Lihat lagi tulisan di awal alinea ini tentang pendeta. Seorang pemimpin jemaah yang ditahbiskan. . Saya istri pendeta. Saya TIDAK ditahbiskan menjadi pendeta. Jadi, menurut saya, memanggil saya dengan sebutan ‘ibu pendeta’ itu sebutan yang ngawur ya. Maksudnya memang sopan, tapi perlu diluruskan tentang itu. Yang ditahbiskan ke dalam jabatan pendeta adalah suami saya. Maka dialah yang bisa dan dipersilakan dipanggil dengan sebutan ‘Bapak pendeta’; bukan saya (yang belajar Ilmu Hubungan Internasional dan saat ini mengajar Bahasa Indonesia) :) Setiap berkenalan, saya selalu memperkenalkan diri dengan nama saya. Silakan mau tambahkan ‘Bu’, ‘Mbak’, ‘Teteh’, ‘Kak’ atau bahkan tanpa embel-embel pun saya tidak keberatan. . Jadi, yuk yuk yuk, belajar sama-sama bahwa bersikap santun juga perlu dilihat lagi latar belakangnya, tidak asal-asalan mengikuti kebiasaan :)

Monday, October 24, 2022

Sebuah Perpisahan (?)

 
Tulisan ini muncul ketika aku mengenang betapa 12 tahun adalah waktu yang sebentar.

Mulai berkenalan dengan Sekolah Minggu Kebaktian Anak (SMKA) Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung di awal 2010. Dimulai dengan lingkup kecil di Situsaeur, kemudian belajar di lingkup Kebonjati yang lebih besar.

Masing-masing perjumpaan dengan manusia di sini memberikan arti tersendiri. Besar atau kecil bukan yang terpenting, karena tetap terkenang di hati.

Pernah seseorang mempertanyakan, "Kenapa sih Rani pelayanan di Sekolah Minggu? Kenapa nggak di paduan suara aja?"


Dan Rani yang masih 20an tahun itu hanya bisa tersenyum simpul menjawab pertanyaan itu.

Tidak ingin menjadi yang sok rohani karena merasa Tuhan memanggil.

Tapi juga gak mau mengingkari bahwa aku menemukan diriku di sini.


Pernah di suatu masa juga aku merasa takut melakukan pelayanan ini. Bukan takut akan Tuhan, tapi takut dengan komentar orang. Takut bahwa orang menaruh harapan tinggi kepadaku dan mereka kecewa karena aku tidak memenuhi harapan itu.

Pernah di masa yang lain aku juga ingin undur diri dengan berbagai gesekan yang terjadi. Tapi jadi merasa malu kalau mundur dari pelayanan yang udah Tuhan kasih.

Di waktu yang lain, aku begitu menikmati berkat Tuhan yang aku rasakan dari persekutuan ini. Bukan, bukan hanya tentang hal material yang ku dapat. Tapi sebuah kepenuhan hati yang aku sendiri belum menemukan kata yang pas untuk menggambarkannya.


Aku nggak tahu seberapa hidupku sudah berdampak di sini, karena aku tahu itu bukan hasil pekerjaanku.

Tuhan yang ijinkan aku bersinggungan dan berinteraksi di sini.

Besar dan kecil dampakku, semoga ada pembelajaran.


Nggak ada yang kekal selain berkat Tuhan, benar?

Keanggotaan gereja, jabatan struktural, fasilitas pelayanan, kebersamaan dengan manusia-manusia di dalamnya.

Semua adalah media yang Tuhan pakai agar kita terus menempel pada pokok-Nya.



Kalian ada di hatiku.

Dengan adanya jarak, pasti perjumpaan kita akan semakin berkurang.

Kalian ada di hatiku.

Dengan adanya Tuhan, pasti Dia mempertemukan kita dalam doa.



24 Oktober 2022

Ditemani langit berarak awan, sebuah pengingat bahwa pergantian adalah alamiah.

Saturday, September 4, 2021

Waxing di Rumah Aja Yuk!

Hai pemilik rambut lebat di sekujur tubuh, dan kebetulan ngrasa kurang nyaman dengan itu. Sini tos dulu sama saya! Dari mulai dibiarin, dicukur, dicabutin, udah pernah semuanya. Dulu nggak kepikiran waxing karena kan kudu nyalon yak. Pasti mihil. Sedangkan aku orangnya hemat dan ekonomis :p

Nah, tidak disangka tidak dinyana, muncullah iklan di instagram tentang perlengkapan waxing dan bisa dilakukan sendiri. Walau rambut kaki dan ketiak saya udah gak selow, saya tetap nggak buru-buru beli. Tenang sodara-sodara, kita sedang belajar untuk membeli apa yang kita butuhkan. Kalau saya, perlu lebih dari 3 pertimbangan sebelum akhirnya membeli sesuatu. Ini sebagai latihan pengendalian diri sih, biar nggak dikit-dikit pesen, dikit-dikit belanja. Kamu boleh beda dengan saya lho ya cara pengendalian dirinya ;)

Klik sana-sini, cek sana-sini, akhirnya pilihan saya jatuh pada produk ini, jreng-jreng:
Aslinya ada spatula dengan 2 sisi ukuran berbeda.
Tapi punyaku entah nyelip dimana :')
Ini produk kecantikan terbaik yang saya beli di sepanjang 'musim' pandemi! Beli di bulan Ramadhan tahun 2021 lalu di toko produk kecantikan Makeupcino, Bandung. Konsep swalayan yang nyaman dengan harganya yang juga sama kaya harga resmi. Yaa, kalau beruntung ada diskon toko. Kalaupun dapat harga normal, kebayar kok dengan pengalaman menyenangkan ngliat jejeran produk-produk yang menggemaskan :D

Yak, mari kita mulai waxing at home ya.


PERTAMA
Yang di dalam gelas tuh tepung terigu ya
BACA KERTAS PANDUANNYA.
Sekali. Duakali. Ulangi beberapa kali sampai paham instruksinya.
Kalau udah, yuk cuci kaki dulu. Keringkan dengan tepuk-tepuk lembut pakai handuk.
Yang perlu disiapin terpisah adalah taburan. Saya punya dua pilihan: bedak bayi atau tepung terigu. Kalian pilih aja mana yang paling mudah didapat. Kenapa harus pakai taburan segala sih? Biar gak pedes kulitmu pas diolesin karamel gulanya, neneng :))
Untuk waxing kali ini, saya pakai tepung terigu aja.
Oh iya, spatula punyaku ilang. Entah nyelip dimana. Jadi sekarang kalau mau waxing, nyendok gulanya pake kartu anggota swalayan yang udah gak kepake :p


KEDUA
Kaki besar, rambut tebal.
Paduan yang greget kan ya?
:p


Santai aja ya. Kalau baru pertama kali, emang pasti deg-degan. Ini bakal salah nggak sih? Bener nggak gini caranya?

Pegang-pegang lagi aja tuh kain strip-nya. Coba cium aroma gulanya. Disentuh juga gak apa-apa. Biar tau juga gimana tekstur dan kekentalan gulanya.

Namanya juga gula ya, pasti manis. Saya sempet iseng jilat jari yang abis pegang wax itu. Manis :))) Jangan keterusan ya.




KETIGA
Kaya adonan siap diproses ya? :D
 

Setelah santai, yuk taburkan bedak/tepung terigu ke kaki yang rambutnya mau kita singkirkan. Nggak usah terlalu banyak sampe kaya donat gula.

Ratakan aja sampai nggak ada bubuk yang menggumpal. Setelah ambil foto di samping, masih saya ratakan lagi kok.






KEEMPAT
Bagian yang hijau lurus itu hasil dari
ngolesin pakai 'spatula' kartu anggota swalayan yak :p


Pakai spatula untuk mengoleskan gula ke kulit kaki. Oleskan ke arah tumbuhnya rambut.

Panjang dan lebarnya silakan disesuaikan aja. Buat perkiraan, oleskan dengan lebar dan panjang yang lebih kecil dari ukuran kain strip ya. Biar area yang diolesin gula bisa nempel semua di kain strip.

Kalau ada yang ketinggalan, ntar bisa diulangin lagi kok prosesnya. Sip? Sip. Njut.




KELIMA

Tempelkan kain strip di area yang udah diolesin gula. Tekan-tekan sampai kira-kira 10 detik. Kalo males ngliatin jam, tekan bolak-balik sampe 10 hitungan aja. 1-2-3-4, sampe 10x.

Setelah itu, siap-siap buat narik berlawanan arah tumbuhnya rambut.

Tarik nafas.
1-2-3.
JEBRET!

Bagaimana rasanya sodara-sodara?






KEENAM
Rambut kaki yang nempel di kain.

Sila dipandang-pandang dulu itu kakinya. Beneran nggak, rambutnya kecabut. Sekarang pandangin kain stripnya. Beneran nggak, ada rambut yang nempel.

Boleh usap-usap sedikit bagian kulit yang abis di-jebret ya :D
Secara pribadi, ini nggak sakit sama sekali sih. Iya, bener ada yang kerasa waktu rambutnya keangkat. Tapi nggak sakit sampai gimana-gimana kok.

Makasih banget untuk penemu gula ini dan paduan dengan bedak tabur/tepung terigu. Aku makin semangat nyobain ke area lainnya.





KETUJUH
Beberapa rambut yang nggak ikut kecabut.
Ulangi proses nomor 2-3-4 di bagian kaki yang lainnya. Termasuk juga kalau mau waxing di ketiak. Tapi kalau di ketiak mungkin agak sedikit PR ya. Soalnya arah tumbuh rambut ketiak lebih nggak beraturan seperti di rambut kaki.

Ulangi proses kalau masih ada beberapa rambut yang nggak ikut kecabut. 

Tapi kalau mau dibiarin aja dan bersihin dengan cabutin pakai pinset juga bisa.
KEDELAPAN
Keliatan gak tuh rambut-rambut yang ngambang?
Sekarang bagian ngeberesih peralatan. Siapin wadah untuk merendam kain strip bekas proses. Saya pakai nampan panjang. Jadi masing-masing kain bisa kerendam sendiri. Tinggalin beberapa menit.
KESEMBILAN

Sambil nunggu kain direndam, ayo kita kasih kesejukan buat kulit yang udah berjuang. Aku pakai gel tanaman lidah buaya asli :D Ya percaya aja sih sama khasiatnya yang membantu menenangkan kulit dan anti bakteri juga kan. Gel aloe vera yang ada di pasaran kayaknya juga bisa kok bantu mendinginkan kulit setelah waxing.
KESEPULUH
Pake sikat gigi hotel aja :D
Jangan males bersihin kain stripnya!

Instruksi di kertas panduan sih bisa dibersihin begitu aja. Tapi karena 'panen'ku buanyak banget, jadi aku pakai sikat gigi buat ngebersihin kainnya. Selain biar cepet, sisa-sisa gula dan bedaknya kan bisa juga lepas. Sikat tipis-tipis aja kakak. Nggak usah kaya lagi nyuci celana jins.

Setelah itu, jemur deh kain stripnya. Cukup diangin-angin aja juga bisa kering. Kalau udah kering, bisa sambil bersihin lagi rambut yang masih tersisa.

Kalau udah kering dan bersih, masukin lagi ke plastik biar nggak kena debu.

Udah deh. Selesai waxing kita hari ini. Di rumah aja.


Nih, perkiraan waktu untuk waxing di rumah ya:
  • Persiapan (langkah 1-2): 5 menit
  • Pelaksanaan (langkah 3-7) : 30 menit (tergantung dengan bagian kulit dan rambut yang mau dihilangkan ya. Semakin sedikit bagian, ya artinya bisa lebih cepat selesai)
  • Pembersihan (8-10): 20 menit.
Udah selesai ^_^
Usaha selama kurang lebih satu jam ini akan ngasih kamu penampilan kulit yang lebih bersih selama kurang lebih 2 minggu. Genetik rambutku emang hitam dan tebal, jadi memang akan tumbuh lagi kaya begitu. Tapi nggak khawatir juga tumbuhnya jadi makin kasar dan menusuk-nusuk kaya abis dicukur. Oh iya, setelah waxing, aku juga ngolesin minyak zaitun biar tetep lembab.


Jadi, sekarang giliranmu untuk coba waxing di rumah ya. Semoga suka!


Wednesday, August 18, 2021

Resensi Buku: Memburu Muhammad

Koleksi pribadi

Identitas buku

Judul buku: Memburu Muhammad

Pengarang: Feby Indirani

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun terbit: Oktober 2020

Jumlah halaman: 210 halaman

ISBN: 978-602-291-745-8


Sinopsis

Sampul belakang (koleksi pribadi)

"Mungkin bisa ada ratusan Muhammad baru di kelurahan ini saja, Bapak yakin ingin menemukan satu Muhammad?"

"Ada cara untuk membuatnya lebih mudah kah? Katanya ini jaman serba canggih, orang kuno seperti aku tidak mengerti! Siapa di sini yang bisa menggunakan benda terang bercahaya itu, yang bisa memberikan jawaban?"

(Seperti yang tertera pada sampul belakang buku ini)







Resensi

Ini buku fiksi. Namun seluruh kisah terasa sangat nyata dan dekat dengan keseharian karena ditarik ke dalam waktu masa kini. Betapa Annisa kecil merasa jijik dengan perilaku kedua orang tuanya, dan bahkan orang dewasa lainnya saat melakukan hal yang mereka bilang, "Anak kecil nggak usah ikut campur!" Atau ketika sesosok sangar berpedang merangsek masuk ke kantor Kelurahan demi mendapatkan informasi mengenai warga yang bernama Muhammad, seseorang yang telah menghancurkan hidupnya bertahun-tahun silam. Atau kisah pelik tentang sebuah mahluk misterius yang menyerang sebuah negara, tapi hanya warga perempuan saja. Bahkan, disajikan juga sebuah kisah cinta luar biasa yang justru akhirnya menghancurkan hidup sang pencinta.

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang ditulis untuk menghidupkan kembali ilustrasi-ilustrasi kotbah ke dalam set kehidupan saat ini. Ada kisah yang berdiri sendiri, namun ada juga kisah yang memiliki tokoh yang sama. Dalam kesempatan dan media yang berbeda, penulis menyebutkan bahwa mungkin nanti akan ada kelanjutan kisah dari tokoh di ceritanya itu.


Kelebihan buku

Ada beberapa gambar atau sketsa sebagai ilustrasi di kisah ke 10. Ini seperti hiburan tersendiri ketika sampai di tengah perjalanan membaca buku ini.


Kekurangan buku

Pada halaman 180, penulisan nama tidak menggunakan huruf kapital (walaupun ini hanya nama binatang peliharaan :D)


Opini

Sejak di kisah pertama, buku ini sudah membuat saya "jijik" dan menimbulkan candu untuk mengajak terus menelusuri kisah-kisah lainnya. Cara penulis bertutur membuat pembaca hanyut dalam setiap kisah. Ketika disajikan polemik haram-halal dari semangkuk bakso mampu meninggalkan perasaan gemas dan turut merasakan lapar juga. Kisah spiritualitas insani yang diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, meninggalkan tanya dan ruang diskusi di dalam diri. 

Pesan manis dari penulis

Thursday, June 25, 2020

[ENG] My Lockdown Experience in Bandung



As we know all over the earth, we are facing the same problem: the COVID-19 pandemic. Most countries are applying the lockdown policy, including Bandung, West Java Province, the city where I live.

My office started to do online classes on March 16, 2020. That was when the city government had not yet ordered every educational institution to close their offline activity. Even though the government had already announced that there were COVID-19 patients detected in Indonesia.

For the 1st month, I obeyed the government's suggestion that everybody should work and study from home. I mean, I didn’t go out of my house at all. I stayed at home 24/7 for one month. Oh, I forgot. I went out of home only once or twice a week to a small vegetable shop near my home. I walked to the shop because it was only 50 m away from my home. For one month, I did the home cooking and didn’t buy any food outside, even from online food service.

I could say that the bad news frightened me. The television, the internet, also the radio gave many instructions about the Do and Don’ts during the pandemic. They were broadcasting the numbers of positive patients, the number of deaths, and the conflicts among the society.

Finally, the Central Government applied the Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), which was close to a lockdown concept, but only for specific areas and some different applied regulations. PSBB for Great Bandung Area started in April 22, 2020 for two weeks. Great Bandung Area includes Bandung City, Bandung Kabupaten, West Bandung Kabupaten, Cimahi City, and Sumedang Kabupaten.

PSBB in Bandung was extended 3 times, so until today, the total duration for Great Bandung was 2 months. 

For me, this pandemic is not only a health matter, but it’s also more than that. It’s about how people are willing to slow down their hectic life, pull out of their busy lives, and re-learn how to be humble in the right way. Some religious days were celebrated during this pandemic. The Nyepi Day for Hindus, Easter Day for Christians, Eid Fitr for Moslems, and Vesak Day for Buddhists. 

Excluding Hindus (because Nyepi Day is a reflection day when they do nothing but fasting and praying), the people with other religions above would normally have an exciting celebration for their religious days. But all of those rousing plans had to be canceled without any excuses. Even if there were some people who insisted on praying massively with their communities.

I was glad that I did a few new things at home, such as cooking, gardening, cleaning the house and washing my laundry regularly, made some handmade masks, was involved in some part of kid’s online service, had a video collaboration with office mates, finished reading books and writing a review, and of course, practiced more English every day. Did I get bored? Only a bit J


~   ~   ~   ~   ~   ~   ~   ~   ~   ~   ~   ~
Thanks to David John Titheridge who has helping me with the correction. 

Sunday, June 21, 2020

Resensi Buku "Maksimal! Bukan Dominan"


Sampul depan
Cerita dikit ya, kenapa akhirnya memutuskan untuk meresensi buku kecil ini. Buku ini ternyata dicetak tahun 2010, diberikan sebagai hadiah kepada suami tahun 2016, dan baru ketemu lagi (secara nggak sengaja) di Juni 2020 ini. Buku ini selama kurang lebih 4 tahun nyelip di rongga antara meja dan tembok. Ketahuan kan ya, betapa buku ini terabaikan selama itu. Juga nggak dibaca oleh seorang pun di rumah ini :D

Singkat cerita, karena ini masih dalam masa kerja dari rumah, jadilah ayo liat kaya apa dalemnya. Sempat agak bosan karena kebanyakan testimoni di awal-awal halaman :D termasuk agak gatal juga karena ada beberapa kekeliruan minor EYD.

Saat sekarang sedang menulis resensi ini, belum selesai baca sampai habis. Tapi ternyata ada beberapa hal yang menggelitik saat mulai membaca.

Yak, sekarang resensinya ya.

----

Judul buku : Maksimal! Bukan Dominan "Cantik di Mata Suami, Berkenan di Hati Allah"
Penulis : Lily Eferin dan Wahyu Pramudya
Tebal : 76 halaman
Penerbit : VISI Press (PT. Visi Anugerah Indonesia), Bandung
Tahun terbit : 2010

----

Bicara tentang peran perempuan, sepertinya sudah menjadi hal pelik sejak ribuan tahun lalu. Apakah ibu rumah tangga itu lebih mulia daripada ibu bekerja? Apakah ibu bekerja lebih berkualitas daripada ibu rumah tangga? Apa pertimbangan suami meminta istrinya untuk berkarya di rumah? Apa yang dipikirkan suami saat mendukung istrinya berkarir? Gimana, ngrasa nggak asing kan dengan hal tadi?

Dari judul buku sampai dominasi warna sampul buku ini, sepertinya memang identik dengan selera perempuan dan ditujukan khusus untuk para istri. Tapi, buku ini juga bisa banget dibaca oleh para suami, juga dibaca oleh perempuan dan laki-laki belum menikah yang sedang berencana ke arah sana.

Di buku ini, kedua penulis berbagi dengan pembaca mengenai pandangan dan pendapat mereka tentang sosok istri bijaksana yang dimuat dalam Surah Pepatah 31:10-31 (lihat di sini). Pilihan kata sehari-hari yang dipakai kedua penulis dalam setiap artikel, membuat tulisan itu terasa akrab dan dekat layaknya seorang kawan yang sedang bercerita. Yang menambah unik yaitu setiap bab disampaikan dengan cara ala menulis surat elektronik. Seingat saya, saya belum pernah membaca buku dengan konsep seperti ini.

----

3*/5*



Resensi Buku "12 Kisah Perjalanan Menuju Damai : Melangkahi Luka"

Judul buku : 12 Kisah Perjalanan Menuju Damai : Melangkahi Luka
Tim Naskah : Rio Rahadian Tuasikal, Aprem Risdo,dkk
Tebal : 83 halaman
Penerbit : SFCGI (Search for Common Ground Indonesia)
Tahun terbit : 2014

---

Sampul depan
Bicara tentang keberagaman dan keberagamaan, Indonesia punya beberapa catatan pedih. Dari kepedihan itu, dua belas sosok di buku ini membuka dirinya, menuturkan luka, melapangkan hati dan membuka wawasan, serta membulatkan tekad untuk tetap menabur damai dalam mewujudkan kerukunan.
Ini bukan kisah sedih di hari minggu.
Juga bukan dongeng yang berakhir indah di ujung hari.
Beberapa malah belum berakhir dan masih terjadi.
Ini adalah kisah-kisah tentang keberanian menghadapi rasa takut dan keyakinan untuk melangkahi luka akibat kekerasan dan intoleransi.
Kisah-kisah yang mengajak pembaca untuk menyatakan toleransi yang bukan sekedar seruan dan kalimat pengantar pidato.

---
Point of View (POV) berbeda untuk setiap kisah. Ada narasumber yang menceritakan sendiri kisahnya, sehingga memakai POV orang pertama. Pada kisah lainnya, narator menggunakan POV orang ketiga.

---
Buku ini diterbitkan dalam rangkaian Pekan Aksi #BDGLautanDamai tahun 2014.
Jadi sepertinya dicetak terbatas dan tidak dijual di toko-toko buku.
(Bukan promosi, tapi kalau kalian mau beli buku ini, bisa hubungi Aprem Risdo di Instagramnya )
---

3.5*/5*

Pengantar di tiap Kisah
Pengantar di tiap Kisah





Monday, May 25, 2020

[ENG] A Brief of My Hometown

I was born in a private hospital in Cepu, East Java since my father was working for a mining company that owned that hospital.
At the time, we were living in a remote village in Kabupaten Tuban, named Banyurip.
This village was 138,6 km far from Surabaya, the capital city of East Java Province.
I got the exact number of kilometers from google ofc, hahaha.

The village was surrounded by woods.
The wood was well-known for its good quality of teak wood. So, there were many home industries of teak furniture.
Not as famous as Jepara’s carving, but they were good enough.
Many of the villagers had their furniture by local carpenters.
My grandmother also had some teak furniture that still exists right now at my parent’s house.
Like other villages, Banyurip people work as a farmer.
Some of them run their field to grow vegetable plants, like the coconut tree, nuts, beans, etc.
Some others had a small farm for chicken, goat, and cow breeding.

Because it was a small village, there was only one kindergarten school which run by a mining company, one public elementary school, and one junior high school which also owned by that mining company.
If the students want to continue their study to high school or secondary engineering school aka STM, they should move or back-and-forth to the capital of the district.
Usually, boys will continue their studies, while the girls were insisted to work to help their parents or just got married.
Yeah, it was a typical culture of a remote village in many places in Indonesia.

Anyway, I have been living in Banyurip until I was in 2nd grade of elementary school, or about 7 yo.
Then my family was moved to Cirebon, West Java because my father’s company moved him to that city.

There was one experience that stays still in my memory: I hunt the teak larva at teak wood with my uncles! Seriously.
They asked me if I want to spend the weekend with them in the wood and searching for the teak larva, then we brought the larva home, and my mom or my grandmother will turn it into a super yummy food.
The common cook fried the larva with garlic, shallot, and extra chili.
Trust me, it was a full protein cuisine!
I would like to hunt these larvae if the wood still exists.
Anyway, locals called the larva: enthung.

Since I live there only for about 7 years, there was not much memory about what I dislike about the village.
Uhm, maybe, if I see it now, I don’t want to live there because there were no malls, cinemas, or amusement parks. :D
If I have chances to go there (actually, my mom and her siblings plan to “mudik” this year.
That was before the pandemic exists  so sad we had to cancel the mudik trip), I would like to go bicycling around the village and enjoyed the pine trees, the goat cages, the cliff scenery, seeing my kindergarten and elementary school.
I wish they were still existing since it was more than 15 years I never been there.
Also I want to re-tracking my way to go to elementary school and walk through the small bamboo wood and little river.
Thank you for bringing up the hometown topic.

This might help you to see closer to my hometown. Not mine, because when I was a kid, I don't have any gadgets. I guess the video was taken recently, not in the 1990 :D


Wednesday, May 6, 2020

Nulis Bahasa Inggris? Berani?

Baiklah, jadi begini ceritanya.

Saya pertama kali kenalan dengan pelajaran Bahasa Inggris itu kelas 6 SD (itu artinya udah sekitar 20 tahun lalu), dan beberapa tahun sebelumnya sudah tertarik dengan ide "bepergian keluar negeri dan dibayar". Jadi dalam masa-masa itu, sebuah profesi yang terpikirkan untuk merealisasikan ide itu adalah pramugari pesawat terbang. Story short, saya nggak pernah jadi pramugari sampai sekarang :D

Tapi apakah ide "bepergian keluar negeri dan dibayar" mati begitu saja? Oh, tentu tidak! Ide itu sepertinya masih terpatri di sanubari. Hanya saja, memang sempat terkubur beberapa tahun lamanya, sehingga seperti terlupakan. Pernah mencoba, tapi gagal, lalu berhenti, tidak dilanjutkan.

Tahun 2019 sepertinya menjadi kebangkitan sinar ide itu. Berada di lingkungan dengan berbagai macam kewarganegaraan dan berbincang tentang rupa-rupa pengalaman dari berbagai tempat di belahan lain bumi, secara tidak sadar membuat ide itu muncul lagi ke permukaan. Sambil mempertanyakan ulang pada diri sendiri : Apakah kamu masih mau? Apakah kamu bisa? Apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana kamu melakukannya? Kapan mau memulai? Mau mulai dari mana? Dan lain lain-dan lain, akhirnya mulai membulatkan tekad untuk merealisasikan ide itu lewat jalan pendidikan pasca sarjana melalui jalur beasiswa. (Iyalahhh, udah umur segini mana ada lowongan pramugari? Hehehe..) Negara tujuan? Mari memulai dengan Australia atau Kanada.

Kemudian, di awal 2020 mulai membuat garis waktu tentang segala persiapan menuju ide itu. Kali ini, supaya tidak kehilangan jejak dan tetap menjaga sinar, beberapa hasil persiapan akan di-posting di blogs ini. Masih pada percaya kan bahwa "Langkah besar dimulai dari satu langkah kecil"?

Bagus ya kembangnya? :D
Langkah kecil pertama yang akan dipublikasikan adalah sebuah tulisan dalam bahasa Inggris :D dan blogs ini akan dijadikan memorial site tentang perjalanan ide itu.

Eits eits, hayooo... Jangan keburu nyinyir dong. Ayo, tunjukan kalau kamu juga sosok yang suportif dan penuh welas kasih. Ketika kamu memberikan semangat, energi positifnya juga akan balik lho. Ya kan ya kan?

Baiklah, sekian kata pengantar sebagai pengingat tentang memulai sebuah perjuangan.


Suatu malam dengan banyak ide seliweran di kepala.

Tuesday, May 5, 2020

Resensi Novel : The Kite Runner

Pertama kali serius meresensi buku nih.
(Lalu ternyata postingan ini adalah postingan pertama di blogs ini tahun 2020, yeay!)
Resensi yang lebih singkat udah diposting di instagram wiraniiii ya.
Ini adalah versi resensi dan curhat sedikit.

Pepatah "Jangan menilai buku dari sampulnya" sekali lagi menunjukan kebenarannya.
Novel ini sudah lama tergolek di lemari kamar saya.
Hanya saya sentuh 2-3x untuk melihat tulisan di halaman sampul bagian luar dan dalam saja.

Novel yang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di 70 negara,
sang penulis mendapatkan penghargaan dari UNHCR,
serta review dari beberapa media ternama seperti Koran Tempo, Kompas, The Jakarta Post, dll.

Sudah.

Selebihnya, saya abaikan karena saya nggak begitu suka dengan gambar sampulnya.
(Wahai desainer sampul, janganlah engkau tersinggung.
Tidak ada yang salah. Ini hanya karena kita berbeda)


---
Judul buku : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Tebal : 490 halaman
Penerbit : Qanita, Bandung
Tahun terbit : 2014

---
Novel dengan duapuluh lima bab ini ternyata novel fiksi sejarah,
yang membuat pembaca akan larut dalam dimensi Timur yang kental dengan tradisi,
disandingkan dengan dimensi Barat yang khas dengan kemerdekaan.

Sebagai penyuka cerita sejarah (jenis-jenis manusia susah move on :D),
saya menikmati saat Khaled mengajak menyusuri lorong-lorong pasar di Kabul,
ruang bawah tanah tempat para pengungsi berhimpitan,
melihat lebih dekat suku Hazara yang dimarjinalkan.

Penggunaan sudut pandang orang pertama
berhasil membawa saya pada emosi setiap karakter yang diceritakan.

Bagaimana Sang Baba menjaga kehormatan keluarga,
Amir yang terbelenggu rasa bersalah.
Hassan yang setia tanpa pamrih.
Ali sang pengabdi.
Bahkan membenarkan sikap Sanaubar sang bunga desa pada masa itu.

Kisah sepanjang 490 halaman ini punya klimaks dan anti klimaks pada masing-masing Bab-nya.
Khaled seperti bercerita tentang kesaksiannya sebagai pria berdarah Afganistan yang hidup pada masa kecil sebelum pecah peperangan di tanah airnya,
usaha pelarian emosi dan diri pada masa remaja-pemuda,
hingga dia sebagai orang dewasa yang hidup di negara merdeka.

Di hal.255, ketika ayah mertua Amir berpidato pada anak dan mantunya,
untuk sesaat saya seperti dibawa untuk melihat juga yang terjadi di Nusantara.
Betapa konsep bibit, bebet, bobot menjadi dasar yang amat kuat dalam keluarga.
Bahwa ikatan darah itu kuat.

---
Ada beberapa istilah lokal yang dipakai oleh penulis,
yang mungkin cukup sulit untuk dimengerti.
Tapi menurut saya itu adalah bumbu magis yang bisa membawa kita ke plot cerita.

---
4*/5*
The book in my living room

Saturday, February 1, 2020

Sebut Saja "Joanna Ooh Na-na"

Nama aslinya Joanna Madelyn Mapandin. Lahir hari Rabu, 1 Februari 2018. Ibundanya keturunan Cirebon-Sunda, ayahandanya keturunan Toraja-Ambon-Sangir. Yes, people. I am gonna talk about a baby girl :D
Joanna and Limousin
Enjoying Cashew with Majiro

At first, nothing special about her. Because all the infant can do are crying and
It might be her first time tasted the durian.
sleeping, hahaha.. Right? Time flew and I (and the people around her) found that she is sooooo cute baby girl, 
mingle easily, adorable, lovable, kissable, peluk-able, culik-able, dan -able -able lainnya.

Di awal-awal masa dia belajar bicara, aku memanggilnya "Joanna Ooh Na-na" dengan nada lagunya Camila Cabello - Havana. Ya tentu saja dengan harapan si bayi akan menoleh padaku. Namanya juga caper. Yang penting usaha :p Dan yang membuat girang adalah ternyata si bocah tidak takut untuk berinteraksi dengan orang baru. Dia mau diajak ngobrol, bahkan selalu mau digendong orang lain. Apalagi kalau ditawarin naik mobil, hmmm... 100% tidak akan ditolak.

Pengalaman pertamanya ke tempat tinggal kami adalah pengalaman yang akan selalu diingat. Saat itu dia masih terhuyung belajar berjalan, masih belum bisa mengucap kata, dan nggak bisa tidur siang karena mungkin ini tempat baru buat dia :D padahal udah menguap berkali-kali dan merebahkan tubuhnya ke bantal. Mungkin ini juga pengalaman pertamanya tanpa orang tuanya di tempat baru yang terasa asing.

Singkat cerita, datanglah kesempatan tak terduga bahwa dia akan tinggal bersama kami untuk waktu lama, kurang lebih 3 minggu, karena ibunya harus berada di luar kota untuk tugas studi Magister Keperawatan nya. Apa yang terjadi selama 3 minggu tersebut? Tentu saja sebuah kenangan yang akan nempel banget di ingatan.

Sweetest After Bath-Time Evr

Apa saja yang berubah? Jam tidur, durasi istirahat, menu makan di rumah, milih menu cemilan sehat dan variasi rasa, jam main di luar ruangan, drama makan, mandi, dan tidur, gak sempat dandan bahkan hanya untuk menyisir rambut, and the list goes on.

Apa saja yang ku berikan? Cinta.
Apa saja yang ku dapat? Bahagia.

Sesederhana itu. Walaupun sebenarnya saat menjalaninya ada saat-saat yang sangat nggak sederhana 😆

Kosakata yang dia ucapkan, semakin hari semakin bertambah banyak dan semakin jelas pengucapannya.
Semakin hari, si suami juga makin sayang sama si bocah. Should I consider this as a thread? Hohohooo...

Selama 3 minggu itu, dia bergantung pada kami. Dia mencari kami untuk memenuhi kebutuhannya, menemaninya, menghiburnya, bermain dengannya, memeluknya, menggendongnya. Setelah itu berakhir, dia akan kembali kepada orangtuanya.

Di lain kesempatan, kami menghabiskan waktu di Yogyakarta. Mungkin perjalanan terjauhnya berkendara dengan mobil, dan perjalanan terjauhku dengan batita 😁

Drama mengantuk, bangun tidur, dan mandi sudah mulai bisa ditaklukan

Dan tulisan ini untuk mengenang saat-saat indah itu. Karena di masa depan, banyak hal akan berubah. Kami berubah. Dia juga berubah. Mungkin juga ingatan dan perasaan yang pernah kami miliki.

Selamat memperingati tahun ke 2 hidupmu di dunia ini, Joanna O nana.

Much love,
Bude & Om Abet


Friday, December 6, 2019

Daun Hatiku

Daun hatiku terkulai
Terhempas lemas ke bumi
Ditiup angin
Melayang sejenak
Lalu terhempas lagi

Sekarang senja telah terbenam
Tak ada juga sepoi menghembus
Daun hanya terdiam
Tidak ke kiri, juga ke kanan

Daun hatiku terkulai.

(Sebuah catatan usang di lembar sebuah Rabu bertahun yang lalu)

Tuesday, September 3, 2019

Indonesia (menurut)ku

Sebutlah ini sebagai identitas :
- ada darah Yogyakarta-Jawa Timur mengalir
- hidup di tanah Priangan
- beragam Kristen Protestan

Dengan identitas itu, apakah sebuah 'keberdosaan' jika si sosok itu mencintai Indonesia?

Mari coba dengan kombinasi identitas lain :

- mengalir darah Minang
- hidup di tanah Maluku
- mengimani Penciptanya, Nabinya, dan Kitab Sucinya.

Apakah dia akan serta menjadi pendosa saat mencinta Indonesia dengan segenap jiwa raga?

Apakah identitas asal usul dan keimanan kepada Sang Semesta menjadi sesuatu yang harus dipertentangkan dengan Indonesia?

Menjadi seorang Indonesia bukanlah sebuah kebanggaan. Akan aneh rasanya kalau kita bilang bahwa kita bangga menjadi orang Indonesia. Karena kebanggaan adalah sesuatu yang kita kerjakan dan perjuangkan untuk dicapai.

Menjadi seorang Indonesia bukanlah sesuatu yang kita pilih pada saat masih berbentuk embrio. Apakah kita pernah meminta untuk terlahir di savana milik manusia Aborigin? Atau meminta terlahir di sebuah gedung rumah sakit modern milik pemerintah Washington? Atau lahir di tengah medan perang Sarajevo?

Bersyukur. Sepertinya itu yang lebih pas dipakai sebagai korelasi antara kita dan Indonesia.

Bersyukur merasakan dan menikmati betapa rayanya negeri ini. Aneka kearifan lokal di tiap wilayah, kekayaan motif etnik dan filosofinya, pantai rupawan, gunung menjulang gagah, hutan sejuk nan mempesona, kuliner otentik, flora nan cantik, fauna eksotis, matahari bersinar sepanjang tahun di sepanjang garis katulistiwa, dan silakan tambahkan lagi daftarnya.

Oh iya, tentu saja ada banyak ketimpangan di sana sini. Yang miskin tak sekolah, yang tak punya uang tak bisa berobat. Polusi pekat di banyak ibu kota, ribuan hektar hutan rutin terbakar setiap tahun. Pemegang kekuasaan tidak mengayomi malah sewenang-wenang, para pejuang terhimpit dan malah dibungkam. Si rakus tak segan membuang makanan di saat perut si jelata melilit memakan angin. Saat senior tidak ragu membuang tisu dari mobil mewahnya, dan si junior tak paham santun saat berinteraksi. Semakin bertambah daftarnya, semakin mengusik rasa malu dan harga diri. Semakin banyak menyebut kebobrokannya, semakin besar pula keinginanmu untuk mencaci negeri ini.

Tulisan ini ku pastikan adalah coretan tanpa ujung. Karena kita masih hidup. Karena Indonesia masih berdiri. Semua masih menjalani masa kini dan di sini.

Kecintaan kepada Tanah Air ini tidak perlu dipertentangkan dengan keimanan. Kecintaan kepada Negeri ini adalah ungkapan syukur kepada Sang Esa.

Itu menurutku. Menurutmu?

Thursday, August 15, 2019

Bukan Sajak Rindu, tapi Sakit

Di luar, sinar bulan mempercantik langit malam dengan bulat sempurnanya.
Banyak mata memandang takjub akan pesonanya.

Mataku pun lama menancapkan pandang pada lingkaran indah yang menggantung di langit itu.

Tapi malam ini berbeda. Indah hanya di mata. Tidak dengan hawa yang menyelimutiku. Terasa ngilu. Tajam menembus kulit. Menarik bulu tubuh tegak berdiri. Pedih di mata. Sesak di hidung.

Oh ya, tentu saja masih tersisa hangat. Tapi ternyata hangat tak nyaman di sekeliling tengkuk dan dahi. Ah, ilusi semata rupanya

Kau tahu namanya?
Influenza 😪
Ini foto waktu flu sebelumnya :D

Thursday, January 10, 2019

Sepertinya Aku Rindu

Ku paksa pintu mobil menahan beban tubuhku
Lalu ku pasrahkan kepalaku pada kacanya
Berharap itu adalah bahumu

Ku nikmati gulita di bawah langit
Gelap yang tanpa kepayahan mengundang kantuk
Tapi ada pendar hangat memanggilku untuk mendongak
Temaram purnama ternyata
"Kamu kenapa?" tanyanya
Tak ku jawab.

Tetiba anganku mengembara ke masa yang lewat
Ku ingat pernah ada khayal menyelinap di malamku
Ku ingat pernah ada kupu-kupu menyerang perutku
Ku ingat gelisah yang mengganggu lelapku

Sepertinya aku rindu.

~ ~
(Sebuah coretan dari selembar kertas lusuh di dalam buku usang nan berdebu yang tertumpuk bertahun lalu)

Friday, May 5, 2017

Sang Pisang dan Aku

Kalo baca status aku yang ini, pada percaya nggak sih kalo makanan itu tuh benar adanya enak di lidah? J

Berawal dari kekaguman kepada Dewi Hughes  yang punya berat 150 kg dan dalam waktu 8 bulan berhasil menurunkan berat badan sampai ke 75 kg, dan tetap dalam keadaan sehat badannya. Dari salah satu video youtube-nya, sempet dia cerita tentang banana cake yang sehat, tidak pakai tepung, margarin, gula tambahan atau apapun, dan tetap enak. Gue kepo dong. And universe helps me dengan memunculkan video iklan di Facebook tentang “Two Ingredients Pancake” yang mana hanya pake pisang dan telur. WOW! Ini kudu dicoba. Dan, di pagi yang sejuk, uplek uplek lah aku di dapur.

Cita-cita, harapan & keinginan : Ada.
Bagus kan ya punya keinginan untuk mulai makan makanan sehat biar sehat dan langsing (bonusnya)?
Harapan bagus, supaya jadi bagus ya harus dikerjakan.
Mau makan "two ingredients banana pancake" sehat, ya kudu turun ke dapur dan mulai mengolah.
Pisang dikupas, dihaluskan pakai garpu, pecahin 2 butir telur, aduk rata, panaskan teflon & mulai masukin adonan ke teflon. Matang. Angkat. Nggak kurang nggak lebih.

Naaah, di sini nih beberapa skill diasah.

Liat gambar ini.
Gosong? Ada.
Hasilnya hancur? Ada.
Adonan lengket di teflon? Pasti.
Berhenti? Sayaaang atuh kalo adonan dibuang. Itu kan makanan. Ada orang di luar sana yang untuk beli telur aja mikir :(
Jadi, pilihannya hanya : lanjut dan selesaikan.

Kepanasan? Kerasa lah.
Panik? Mulai naik levelnya.
Kuciwa? Ada juga.
Nunggu mateng? Mulai gak sabar.
Harus makan sendiri karena gak ada yang suka?
Hahahhaa.... Sepertinya inilah akhir dari test pengelolaan emosi hari itu.

Ternyata, mewujudkan harapan itu perlu persiapan. Harapan sederhana sekalipun.

Latihan ngebalik gorengan, perlu diasah terus. Paham tekstur makanan dan mengira-ngira kematangan, juga perlu latihan dan feeling yang kuat. Itu tehnisnya.

Soal mental. Apakah hatimu nggak berantakan juga kalau pancake-mu terburai acak-acakan? :D ditambah pula mendapati satu sisi terlihat hitam karena gosong? Apalagi ketika beberapa orang yang kamu minta untuk mencicip, tapi raut wajahnya tetiba berubah kaya orang kebelet pipis. Apa jawabmu, sodara-sodara?
Pengelolaan emosi penting banget kan?

Aku tahu banget kalau pisang dan telur itu makanan penuh gizi dan enak tiada tara. Aku memasak mereka juga dalam rangka untuk memberi nutrisi ke badan aku. Dari sisi spiritual, aku bersyukur masih diberi nikmat hebat ini. Dan aku mau memakan mereka :)

Maka, ku pandangi sang pisang dengan senyum. Kukunyah perlahan dan ditelan dengan menikmati manisnya. Tidak ada yang buruk dari masakanku ini. Dan, aku akan mengulangnya di hari-hari mendatang.

Itu sudah.

Cerita tentang Sang Pisang dan Aku.

Saturday, January 21, 2017

Alisku

Ini alis yang cetar alaminya :D
Dulu minder banget karena tubuhku diselimuti rambut yang banyaaaaakkk, dibanding perempuan lain. Seiring waktu, ya mulai bisa nerima sih :D walau kadang masih ada mindernya.

Tapi kalo ngliat alisku, rasanya jadi rada pede. Soalnya jarang ngliat alis begini. Hitam, legam, lebat, nyambung, dan punya lengkung alami 😁

Ada yang ngeh kalo alis ku itu asli buatan sononya, tapi masih ada juga yang nyangka kalo aku pake pensil alis yg super tebel dan legam. Sampe-sampe orang itu ku suruh pegang alisku biar percaya, hahaha...

Jaman sebelum nikah, alisku gak pernah diapa-apain. Dengerin kata Ibuku kalau perempuan jawa itu alisnya kudu alami sebelum didandanin pas nikah. "Baik, Nyah" :)

Step by step mencukur alis ala Jeng Ran
Setelah nikah pun aku nggak membabi buta pengen ngapa-ngapain alis. Jaman itu belom ngeh sama yang namanya dandan. Pake foundation cemong-cemong, terang di muka gelap di leher, hahaha.. Gak bisa pakai maskara, kalo pake eyeliner selalu nyolokin mata. Hadeuuh.. Wis, pokoknya ndak bagus sama sekalilah.

Nah, setelah cukup lama kenalan sama Oriflame, mulai tau deh tuh beberapa tips dandan, termasuk
merapihkan alis. Kebanyakan tutorial selalu menebalkan alis dengan pewarna tambahan (seperti pensil alis, eyeliner, atau eyeshadow), tapi kan alisku udah iteeeem banget. Ngapain ditambahin warna? Trus buat mempertegas bingkai, disaranin nutup pakai concealer. Lah, punya ku mana bisa? Lha wong rimbun bangettt.

Lalu mulailah belajar cabut alis. Hiyyy... serem ya? Ini ngikutin cara Ibu aku. Bisa tahan lebih lama karena dicabut sampai akar. Tapi seringkali perih pas bagian kelopak mata euy. Jadi ya gondrong lagi deh si alis. Mau nyoba cukur, tapi sama sekali blom pernah nyoba. Takut salah (nah, ini nih penyakit orang males. Selalu pake alasan "takut salah" lah, "takut gagal" lah. Huih.. Kalo takut mulu, kapan jadi cantik? :p ) Akhirnya ada seorang sahabat yang menyarankan "Cukur aja Ran. Sebelom cukur, itu si gondrongnya olesin lotion dulu. Biar licin & gak perih."

Sumber : Jar of Quote
Berbekal keberanian, mulailah praktek cukur-cukuran. Gak langsung cakep kaya di foto di atas itu lho. Pertama cukur di bagian kelopak dulu. Yang penting gak rimbun. Lalu diulangin beberapa minggu kemudian. Bulan-bulan berikutnya mulai nyobain ngebentuk ngikutin lengkung. Pernah kelebihan nyukurnya, jadi kesannya rada gundul :D tunggu gondrong, baru deh coba cukur lagi. Lama-lama ya jadi bisa ngrasain batas-batas dimana harus dicukur dan ngukur yang alami ala aku.

Just try what you what to try, cause you'll never know until you try :)