Tuesday, September 15, 2015

Aku dan Seragam Putih-Merah

Akhir Juli 2015 yang lalu aku bergabung ke Rumah Belajar "Embrio" ini sebagai teman belajar beberapa anak-anak Sekolah Dasar Santo Yusup Cikutra, Bandung

Rumah Belajar "Embrio" ini digagas oleh Bu Eni Kurniati karena memang beliau senang dengan pelajaran matematika ^_^ Dimulai dengan kesukaan tersebut (yang berhasil mengantarkan putra semata wayangnya menjadi juara lomba-lomba matematika), lalu ada usulan dari beberapa rekan beliau untuk berbagi juga dengan anak murid lainnya, maka dibukalah rumah belajar ini.

Kalo aku, apakah aku juga suka matematika? Hahaha.. Gimana ya nulisnya? Iya, aku suka berhitung. Tapi nilai matematikaku nggak pernah membanggakan euy. Keseringan dapat 6. Dapat 7 hanya kadang-kadang. Apalagi 8, 9, 10. Haduuuhh.... Malu..

Tapi bukan itu kok poinnya antara aku dan 'Embrio' ini.


Yang mau ku ceritakan adalah bagaimana aku juga belajar di kelas ini (bukan hanya anak-anak berseragam putih-merah saja yang belajar.) Oleh Bu Eni, aku diminta untuk mendampingi 4 (empat) orang anak-anak kelas 2.

Tugasku sederhananya 'hanya' 3 :
  1. (berdasarkan Buku Tugas masing-masing) memastikan PR mereka dikerjakan di sini.
  2. Jika tidak ada PR dan atau ulangan maka berlatih soal-soal untuk pelajaran esok hari. 
  3. Jika ada ulangan, maka hari ini ada latihan soal untuk mata pelajaran yang dimaksud 
Mengenai mata pelajaran sebenarnya tidak ada hambatan berarti. Namanya juga SD kelas 2. Ya kan? :D Tapi di luar sisi akademik, ada hal-hal yang menurutku harus dimiliki seorang pengajar :
  • Ketulusan mendengar
  • Kesabaran menyampaikan/bicara
  • Ketegasan mendampingi
  • and the list goes on.....

Anak-anak itu sudah sejak subuh hari pergi dari rumahnya ke sekolah. Di sekolah berkegiatan sampai sekitar pk. 12.00. Lalu yang punya kegiatan ekstra kulikuler, langsung ke lokasi masing-masing untuk kegiatan itu (taekwondo, modelling, angklung, seni tari, dan lainnya). Setelah itu mereka juga harus ke rumah belajar untuk mengerjakan PR-nya. Bahkan setelah dari rumah belajar ini harus ke tempat les Bahasa Inggris di tempat lain.

 Tak jarang beberapa anak selalu merengek ketika tiba di rumah belajar, "Tante Raniii... aku capek.."
Lalu, aku harus gimana Dek? Aku tau banget rasanya capek. Dan aku akan dengan sangat senang menyilakanmu untuk istirahat tidur siang. Tapi kalau aku melakukan itu, orang tuamu akan ngomel ke Bu Eni karena kamu nggak ngerjain PR-mu. Ditambah kalau nilai ulanganmu tidak seperti yang diharapkan orang tuamu, habislah Bu Eni.
(Iya Bu Eni yang diomelin. Karena "kepala sekolahnya" kan Bu Eni, hehehe)

Huwaahhh... anak-anak sekecil itu dibombardir dengan rupa-rupa tuntutan orang tua dan tuntutan jaman. Iya betul, kalau tidak dibekali, maka tunas muda itu tidak bisa bersaing di kerasnya dunia. Tapi kok ya rasanya.... ada yang ngganjel di hatiku :'( dan bodohnya aku nggak cukup cerdas untuk menggali ganjalan itu dalam tulisan, lalu mencari penyelesaiannya.

Tapi, biarlah sambil waktu berjalan, aku akan mejadi kawan belajar mereka. Kawan yang bermanfaat. Semoga.



Cicadas-Bandung, September 2015
WiRani

Friday, June 12, 2015

2. Bermain dengan jujur (play fair)

Ini adalah penjelasan rinci dari 16 butir kearifan dari buku "All I Really Need to Know I learned in Kindergarten" yang pendahuluannya ada dalam postingan sebelumnya.

1. Berbagi segala sesuatu (share everything)

2. Bermain dengan jujur (play fair)
Maksudnya dalam interaksi diperlukan sikap jujur dan adil. Kristus mengajari ukuran yang tepat: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Mat. 7:12 // Luk 6:31). Dengan maksud sama, Confucius dalam kearifan Timur mengajari: "Jangan lakukan apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan kepadamu."

3. Jangan memukul orang (don't hit people)
4. Taruh kembali barang yang kau ambil (put things back where you found them)
5. Rapikan kembali apa yang kamu berantaki (clean up your own mess)
6. Jangan mengambil barang yang bukan milikmu (don't take things that aren't yours)
7. Ucapkan "maaf" jika kau melukai seseorang (say you're sorry when you hurt somebody)
8. Cuci tanganmu sebelum makan (wash your hands before you eat)
9. Siram sehabis pipis (flush)
10. Kue dan susu baik untuk kesehatanmu (warm cookies and cold milk are good for you)
11. Jalani hidup berimbang - belajar dan berpikir, menggambar, mewarnai, menyanyi, menari, bermain dan mengerjakan sesuatu setiap hari (live a balanced life - learn some and think some, draw and paint and sing and dance and play and work every day some)
12. Tidur siang setiap sore (take a nap every afternoon)
13. Manakala keluar ke dalam dunia, hati-hati terhadap lalu linta, bergandengan tanganlah dan tetap bersama-sama (when you go out into the world, watchout the traffic, hold hands, and stick together)
14. Sadari keajaiban. Ingatlah benih yang kecil di dalam pot : akarnya tertanam ke bawah dan tumbuhnya membesar ke atas. Tak seorangpun tahu bagaimana dan mengapa, tapi kita semua seperti itu (Be aware of wonder. Remember the little seed in the styrofoam cup : the roots go down and the plant goes up and nobody really knows how or why; but we are all like that)
15. Ikan emas, tupai dan tikus putih, bahkan benih kecil di dalam pot - semuanya akan mati. Begitu juga kita (Goldfish and hamsters and white mice and even the little seed in the styrofoam cup - they all die. So do we)
16. Lalu ingat juga buku-buku bacaanmu. Kata pertama yang kau pelajari - kata terbesar dari segalanya - LIHAT! (and then remember the Dick-and-Jane books and the the first word you learned - the biggest word of all - LOOK)

1. Berbagi segala sesuatu (share everything)

Ini adalah penjelasan rinci dari 16 butir kearifan dari buku "All I Really Need to Know I learned in Kindergarten" yang pendahuluannya ada dalam postingan sebelumnya.

1. Berbagi segala sesuatu (share everything).
Maksudnya jangan serakah dan jangan pelit. Materi selalu kalah nilainya dengan sahabat. Berbagi segala sesuatu adalah jalan untuk memupuk persahabatan yang berharga. Andragogi (pendidikan orang dewasa) menemukan kembali sharing sebagai alat yang sangat penting untuk berkembang kepada kedewasaan dan kematangan.
2. Bermain dengan jujur (play fair)
3. Jangan memukul orang (don't hit people)
4. Taruh kembali barang yang kau ambil (put things back where you found them)
5. Rapikan kembali apa yang kamu berantaki (clean up your own mess)
6. Jangan mengambil barang yang bukan milikmu (don't take things that aren't yours)
7. Ucapkan "maaf" jika kau melukai seseorang (say you're sorry when you hurt somebody)
8. Cuci tanganmu sebelum makan (wash your hands before you eat)
9. Siram sehabis pipis (flush)
10. Kue dan susu baik untuk kesehatanmu (warm cookies and cold milk are good for you)
11. Jalani hidup berimbang - belajar dan berpikir, menggambar, mewarnai, menyanyi, menari, bermain dan mengerjakan sesuatu setiap hari (live a balanced life - learn some and think some, draw and paint and sing and dance and play and work every day some)
12. Tidur siang setiap sore (take a nap every afternoon)
13. Manakala keluar ke dalam dunia, hati-hati terhadap lalu linta, bergandengan tanganlah dan tetap bersama-sama (when you go out into the world, watchout the traffic, hold hands, and stick together)
14. Sadari keajaiban. Ingatlah benih yang kecil di dalam pot : akarnya tertanam ke bawah dan tumbuhnya membesar ke atas. Tak seorangpun tahu bagaimana dan mengapa, tapi kita semua seperti itu (Be aware of wonder. Remember the little seed in the styrofoam cup : the roots go down and the plant goes up and nobody really knows how or why; but we are all like that)
15. Ikan emas, tupai dan tikus putih, bahkan benih kecil di dalam pot - semuanya akan mati. Begitu juga kita (Goldfish and hamsters and white mice and even the little seed in the styrofoam cup - they all die. So do we)
16. Lalu ingat juga buku-buku bacaanmu. Kata pertama yang kau pelajari - kata terbesar dari segalanya - LIHAT! (and then remember the Dick-and-Jane books and the the first word you learned - the biggest word of all - LOOK).

Friday, April 10, 2015

Fast and Furious 7 – For Paul

Courtesy of Universal Studios
Iya. Ini memang film untuk mengenang Paul Walker. For Paul. Begitu tulisan di akhir filmnya.
Saya pun menonton film ini lebih karena ingin melihat Brian O’co... eh, maksudnya Paul Walker beraksi untuk terakhir kalinya walau tidak di seluruh adegan – ya, itu yang diberitakan media massa. Kru film memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memermak 2 saudara kandung Paul yang memerankan sisa-sisa adegan film yang belum sempat dirampungkan Paul.

Sama dengan Fast Furious sebelum-sebelumnya, Fast and Furious 7 masih mengusung dan menampilkan ide dan adegan gila dalam setiap scene-nya. Masih menggunakan mobil tentu saja. Tapi kali ini mobilnya terjun dari pesawat militer. Fiuhh. Belum selesai jantungan, ehh.. ternyata mobil-mobil Tej, Letty, Dom, Brian, dan Roman (akhirnya) harus mulus mendarat di jalanan di tepi tebing dan jurang. Ooohh.... Itu efeknya 100x lebih menegangkan dari wahana Hysteria di Dufan J Juga ketika adegan Dom dan Brian nyetir mobil super mewah untuk menyeberangi gedung super tinggi. Adooohh....

My moment
Yang agak mengganggu dari seluruh adegan (menurut saya) adalah efek bom dan serangan peluru di dalam kota Los Angeles. Sepintas malah terlihat sepeti perang manusia dan alien :p Tapi di luar itu semua, aksi mobil dan laga Fast and Furious 7 ini memang nggak cukup dikasih 2 jempol.

Rangkaian ke 7 dari Fast Furious ini sangat menguras emosi. Saya sibuk membayangkan apa yang dirasakan rekan sekerja Paul di film itu. Pasti bukan sekedar ‘kenalan’ saja. Karena bertahun lamanya mereka bersama-sama terlibat dalam pembuatan film. Rasanya pasti ganjil ketika menyelesaikan cerita tanpa lakon aslinya. Rasanya pasti perih dan sesak seperti dipaksa menelan biji salak ketika mengingat bahwa sahabat mereka sudah pergi. Bahwa anggota keluarga mereka udah nggak ada.

Banyak momen-momen sentimentil tentang ‘keluarga’ yang diangkat kali ini. Dalam sebuah percakapan, Dom bilang gini ke Brian, “Aku pernah melihatmu terjun dari pesawat, melompat dari mobil. Aku melihat keberanianmu sejak awal. Tapi hal paling berani yang kamu lakukan adalah menjadi pria yang baik untuk Mia. Dan menjadi ayah yang baik untuk keponakanku.” Melting.

Di Fast Furious 6 kita tahu kalau Leticia Ortiz kehilangan ingatannya. Pun di seri ke 7 ini. Namun di beberapa kejadian, sedikit demi sedikit ingatan Letty pulih. Tapi tidak mudah, karena dia merasa aneh dengan dirinya sendiri bahkan berniat untuk meninggalkan Dom. Momen sentimental lainnya dari Dom adalah ketika dia mengatakan kepada Letty, “Kamu tidak bisa menyuruh orang untuk mencintaimu.” Yang saya terjemahkan dan tambahkan dengan, “Karena hal mencintai itu datangnya dari dalam hati. Bukan sesuatu yang direka-reka.”

Di akhir kisah happy ending ini, sangat kental salam perpisahan yang ingin disampaikan kepada Paul Walker. Sang lakon yang menghidupkan tokoh Brian O’Connor. Diiringi lagu “See You Again” dari Wiz Khalifa yang berduet dengan Charlie Puth, Dom bermonolog, “Walaupun kita berada di dunia yang berbeda, kamu tetap saudaraku.”

And now you gonna be with me for the last ride.
For Paul.

Rest In Peace.

Sunday, February 8, 2015

All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten (akan bersambung..)

Judul di atas adalah buku yang ditulis oleh Robert Fulghum (New York : Villard Books, 1990). Sebetulnya saya belum pernah baca buku itu :D Tapi ringkasannya disampaikan oleh seorang tua yang beberapa kali saya jumpai dalam acara formal.

Tulisan saya kali ini lahir dari hasrat besar karena, pertama, saya mengagumi sesosok sepuh ini. Kedua, tentu saja karena sharing beliau tentang buku di atas sangat nanceb di hati dan kepala saya. Supaya catatannya nggak hilang terselip di antara tumpukan kertas di rumah, ya maka lebih baik saya tulis di sini. (Lebih mudah menemukan alamat tautan di blogspot dibanding bongkar-bongkar kardus di rumah, hehehe).

Dalam bukunya, Fulghum merangkai kata-kata berikut :
Semua yang perlu ku tahu, telah ku pelajari di taman kanak-kanak. 
Semua yang perlu ku tahu mengenai bagaimana menjalani hidup,
  apa serta bagaimana melakukannya, ku pelajari di taman kanak-kanak.
Kearifan tidak terletak di puncak gunung sekolah pasca sarjana,
tetapi di bak pasir taman kanak-kanak dan sekolah minggu.

Ada 16 butir kearifan yang disampaikan dalam buku tersebut (yang disampaikan juga oleh sesosok sepuh yang saya kagumi tadi, tepat 1 hari setelah ulang tahun saya yang ke 28). Butir per butir tulisan Fulghum akan saya tulis ulang penjelasan dan rinciannya secara harian. Ini tentu saja supaya kalian yang baca nggak keburu bosan :D dan ini juga jadi latihan buat saya pribadi untuk konsisten menulis ^_^

Sebagai ringkasan, ini dia 16 butir kearifan Fulghum :

  1. Berbagi segala sesuatu (share everything)
  2. Bermain dengan jujur (play fair)
  3. Jangan memukul orang (don't hit people)
  4. Taruh kembali barang yang kau ambil (put things back where you found them)
  5. Rapikan kembali apa yang kamu berantaki (clean up your own mess)
  6. Jangan mengambil barang yang bukan milikmu (don't take things that aren't yours)
  7. Ucapkan "maaf" jika kau melukai seseorang (say you're sorry when you hurt somebody)
  8. Cuci tanganmu sebelum makan (wash your hands before you eat)
  9. Siram sehabis pipis (flush)
  10. Kue dan susu baik untuk kesehatanmu (warm cookies and cold milk are good for you)
  11. Jalani hidup berimbang - belajar dan berpikir, menggambar, mewarnai, menyanyi, menari, bermain dan mengerjakan sesuatu setiap hari (live a balanced life - learn some and think some, draw and paint and sing and dance and play and work every day some)
  12. Tidur siang setiap sore (take a nap every afternoon)
  13. Manakala keluar ke dalam dunia, hati-hati terhadap lalu linta, bergandengan tanganlah dan tetap bersama-sama (when you go out into the world, watchout the traffic, hold hands, and stick together)
  14. Sadari keajaiban. Ingatlah benih yang kecil di dalam pot : akarnya tertanam ke bawah dan tumbuhnya membesar ke atas. Tak seorangpun tahu bagaimana dan mengapa, tapi kita semua seperti itu (Be aware of wonder. Remember the little seed in the styrofoam cup : the roots go down and the plant goes up and nobody really knows how or why; but we are all like that)
  15. Ikan emas, tupai dan tikus putih, bahkan benih kecil di dalam pot - semuanya akan mati. Begitu juga kita (Goldfish and hamsters and white mice and even the little seed in the styrofoam cup - they all die. So do we)
  16. Lalu ingat juga buku-buku bacaanmu. Kata pertama yang kau pelajari - kata terbesar dari segalanya - LIHAT! (and then remember the Dick-and-Jane books and the the first word you learned - the biggest word of all - LOOK)

Fulghum sangat menolong kita memahami mengapa Yesus mengatakan, "..... barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."



Oh iya, sosok sepuh yang mengagumkan itu adalah Kuntadi SumadikaryaSeorang besar (dan pembesar) yang tanpa ragu mengirimkan permohonan pertemanan di akun Facebook saya dan menyapa, "Rani, apa kabar? Masih inget 16 butir Fulghum?"***

Tuesday, October 7, 2014

GKP dan PT KAI – bukan apple to apple

Maksud hati ingin berfoto selfie. Jadi mulai bercermin di ruang pribadi dan melihat dari angle favorit. Sebal melihat si jerawat yang terus meradang, tapi tetap mengagumi lengkung alami si alis cantik.

September 2014 lalu, saya menyempatkan diri untuk kembali mengunjungi Yogyakarta. Karena tidak terburu waktu dan ingin menikmati perjalanan, kami (saya dan suami) memilih moda transportasi kereta api ekonomi “Pasundan”. Rasanya exciting sekali membandingkan dan melihat apa saja yang berubah sejak menggunakan jasa kereta api 5 tahun lalu. Dari pemberitaan media massa yang saya dengar, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) telah berubah dan mengalami banyak perbaikan pelayanan.

Teman perjalanan
Tibalah di hari keberangkatan. Di lobby stasiun, masih jamak terlihat ketidaktertiban. Plastik bekas segel minuman, kardus bungkus rokok, puntung rokok, para perokok, tissue, dan banyak printilan benda yang seharusnya tidak berserakan. Lalu di tengah jubelan pengunjung yang hendak mencetak mandiri tiketnya, hanya terdapat 1 anjungan mesin cetak tiket. Yakin cuman nyediain satu? Nggak cukup kaliii. Terdengar juga keluhan dari beberapa pengantri yang tidak mengerti apa yang harus dilakukan dengan bukti pesan tiket kereta yang mereka pegang. Anda juga belum tahu kalau tiket kereta api bisa dipesan tidak hanya di loket di stasiun? Pergilah ke mini market atau kantor pos di sekitar Anda, dan tanyakanlah pada mereka.

Begitu masuk melewati gerbang pemeriksaan, suasana di ruang tunggu terasa lenggang. Tidak berisik, tidak berantakan, dan tidak kotor. Oooh, ini tho maksud dan hasil dari peraturan bahwa pedagang asongan tidak diperbolehkan lagi masuk ke stasiun? Ya, memang sangat terasa bedanya. Stasiun jadi terlihat manis J

Inilah saatnya. Jreng jreng.. Saya naik ke gerbong kereta, dan akan menikmati 9 jam perjalanan dari Bandung ke Yogya. Dan Anda tahu? Keretanya jauuuh lebih baik, lebih bersih, dan lebih tertib. Namanya tetap saja kereta kelas ekonomi; dengan kursi 3-2. Tapi di dalamnya (baik fisik dan sistem) ada banyak hal yang diperbarui. Yang lawas diganti yang baru, yang rusak diperbaiki, yang kurang ditambahkan.

Dari fisik yang terlihat : kipas angin digantikan pendingin ruangan. Di gerbong berkapasitas 100 orang, terdapat 6 pendingin ruangan. Jendela yang tadinya banyak retak karena dilempari batu dan dibuka tutup manual, sekarang sudah diganti jendela permanen. Toiletnya (walaupun masih agak bau pesing) sudah dilengkapi dengan tissue toilet, sabun cair di westafel, dan air dari kran sudah mengalir dengan lancar.

Dari sistem yang terasa : jam keberangkatan dan tiba, tepat sesuai seperti yang tercetak dalam karcis. Para pramugarinya berganti dengan wajah muda dan segar dan berpakaian rapi warna biru dengan motif batik. Lima tahun lalu sih isinya pria tengah baya dengan baju biru lusuh. Kalau dulu tukang bebersih gerbong adalah pengamen bersapu dan minta uang paksa ke penumpang, kali ini ada 2 petugas kebersihan berseragam dengan bordir OTC – on the way cleaning, rutin sekitar 3 jam sekali berjalan untuk menyapu gerbong serta membawa kantung sampah. Beberapa kali saya mendapati masih ada sampah tertinggal. Tapi ini bukan kelalaian si petugas OTC. Ceceran sampah tadi sengaja ditinggalkan oleh orang dengan mental ndeso. Iya ndeso. Karena mereka terbiasa membuang apapun di manapun. Padahal mereka ada yang berbekal gadget terkini. Ada juga yang menggunakan aksesoris identitas tertentu. Miris ketika melihat kepemilikan materi dan status reliji tidak diimbangi dengan kesadaran penggunaan fasilitas publik.

Kereta Api "Pasundan" saat ini
Sebenarnya hal-hal sederhana tadi, bisa dilakukan dari jaman dulu kala dan oleh siapapun juga kan? Toh itu bukan hal fenomenal yang tidak mungkin. Sejak jaman sekolah dasar, kita dijejali dengan pengetahuan umum bahwa membuang sampah itu di tempat sampah. Tapi kenapa ketika sudah melepaskan seragam sekolah, kita malah membuang sampah di lobby stasiun? Kenapa?

Pak Ignasius Jonan (Dirut PT KAI saat ini) mungkin juga banyak yang musuhin karena “nabrak” sana-sini yang rusak. Tapi kalau index kepuasan konsumen meningkat buanyaaak, kan artinya gebrakannya berhasil. Sekitar 5-10 tahun lalu KAI juga bobrok dimana-mana. Layanannya payah, gerbong rusak, lokomotif payah, terlambat hampir di setiap jam keberangkatan/tiba, and the list goes on. Tapi sekarang? Berubah kok. Sekali lagi : bukan perubahan fenomenal. Tapi yang namanya perubahan pelayanan menjadi lebih baik itu, pasti kerasa bedanya. Kerasanya tuh di sini (sambil nunjuk . . . . . )

Lagi menghayal (tingkat dewa) : kalau Gereja Kristen Pasundan digituin bisa nggak ya?
Khayalan tadi tertunda beberapa hari karena saya sedang menikmati Yogyakarta. Merasakan cantiknya Gua Pindul dan Sungai Oya, nikmatnya kuliner bakmi godhog dan sate klathak, menghabiskan waktu di Mirota Batik, dan mengenang masa kuliah di UPN “Veteran” Yogyakarta. Fyi : bentar lagi mau jadi negeri tuh ;)

Lalu tibalah saatnya kembali lagi ke Bandung. Masih menggunakan kereta ekonomi “Pasundan”, maka saya lanjutkan khayalan tingkat dewa beberapa hari yang lalu di gerbong.

Urip iku urup.” Itu bunyi gambar berbingkai di salah satu tembok Mirota Batik Yogyakarta. Urip = hidup. Iku = itu. Urup = menyala, berpijar, menerangi. Jadi, menurut Anda, apa artinya kalimat itu?

Saya juga menginginkan ada perubahan di GKP. Saya bukan pemikir besar, jadi tidak berani memikirkan fundamen monumental di 58 Jemaat dan di 7 Badan Pelayanan. Misalnya menyusun strategi pembinaan anak berbasiskan character building, atau strategi sumber daya insani yang mengedepankan bla bla bla…. Bukan, bukan. Saya merasa kecil dan tidak berani berpikir sejauh dan sebesar dan seluas itu.

Saya teringat sebuah obrolan ringan dengan seorang tua. Beliau bilang kalau tidak bisa membandingkan GKP dengan  perusahan yang profit oriented. Jadi GKP tidak bisa di-apple-to-apple-kan dengan PT KAI. Lalu gimana dong biar PT KAI juga bisa dijadikan salah satu contoh pembelajaran tentang perbaikan kinerja? Kalau tidak bisa apple-to-apple, mungkin duku-to-durian. Sama-sama berawalan ‘du’ kan?

Menurut saya, ritual ibadah itu tidak sekedar rajin sembahyang dengan berbagai macam ritusnya. Walaupun kegiatan di sekitar gereja itu bersifat sukarela, bukan berarti kerja sesuka hati. Katanya “menjadi berkat bagi sesama”. Tapi kalau rapat saja datangnya sudah telat, ehh.. di rapat malah tidur. Atau malah sibuk ngobrol sana-sini sambil ribut cecuit di media sosial. Bukannya itu salah satu bentuk tidak menghargai sesama (penghadir rapat)? Sudah bersedia memilih tanggung jawab di posisi tertentu, tapi ketika diberi tugas, dengan sesuka hati tidak mengerjakan apapun dengan dalih tidak sempat. Hasilnya? Ya tidak ada hasil. Karena dari pertemuan ke pertemuan, topik yang sama selalu diulang. Lalu jenuh. Penat. Jadi pundung. Lalu menghilang dan mengundurkan diri. Jadi, ini mana duluan yang harus dibenahi : sistem atau mentalitas?

Lalu, beranikah saya (baca : GKP) memperbaiki diri? Ketika saya sudah memilih dan mengambil tanggung jawab sebagai seorang pekerja/pelayan/sukarelawan, apakah saya berani mengevaluasi luar-dalam kinerja saya? Seperti PT KAI : yang lawas diganti yang baru, yang rusak diperbaiki, yang kurang ditambahkan? Kalau PT KAI mengedepankan service excelent, kenapa GKP enggak bisa? Menjadi tua bukan berarti bebas kesalahan kan? Walau masih muda, bukan berarti tidak boleh mengingatkan kan?

Tetiba saya ingin sekali ngobrol dengan Pak Jonan dan menanyakan beberapa hal naif.

“Pak, Bapak ngapain aja sih buat untuk ngajak orang-orang PT KAI biar mau kerjasama memperbaiki service?” “Trus, kalo Bapak lagi kesel sama temen Bapak yang males dan ga mau kerja, marah ga? Trus negurnya gimana? Kan ada tuh orang yang ditegur tentang cara kerjanya, malah ngambek ga karuan dan nyangka kalo kita benci sama dia. Padahal kan nggak gitu maksudnya.” “Bapak hebat bangettt iih. Bisa bikin perusahaan sebesar itu dengan persoalannya berubah jadi keren. Keren banget malah. Kayak Superman, hehe. Belom kaya Singapura sih. Tapi kalo berbenah terus, rasanya bisa. Bisa kan Pak?” “Suka kesel sama diri sendiri deh Pak. Tahu banget ada yang keliru dan harus diberesin. Tapi nggak tau harus mulai dari mana dan gimana ngomongnya. Jadi marah, campur sedih, campur kesal L

Celotehan bocah naif itu dijawab dengan tenang oleh Pak Jonan, “Percayalah Nduk (bhs. Jawa : Panggilan kepada anak perempuan). Superman hanya ada di film. Di kehidupan perusahaan/organisasi/bangsa, yang menjadikan hebat adalah SUPERTEAM. Aku ndak punya mimpi kok. Aku cuma ngliat realita di depanku, dan kerja. Bikin perbaikan seperlunya sesuai kebutuhan. Hidupku nggak selama dinosaurus. Jadi nggak cukup waktu untuk mengalami sendiri semua kesalahan dan kekeliruan. Kita tuh guru dan murid untuk satu sama lain kok. Sadar nggak, kalo hidupmu itu juga diperhatiin orang lho? Mereka ngliat yang kamu kerjain.”

“Tapi Pak, ….”
Komplimen keterlambatan dari PT KAI

Saya tidak melanjutkan percakapan tadi karena samar-samar mendengar penjelasan dari seorang pramugara, bahwa seluruh penumpang kereta ‘Pasundan’ jurusan Yogyakarta-Bandung tanggal 25 September 2014 harus menunggu selama kurang lebih 2,5 jam karena lokomotif kereta rusak dan harus menunggu lokomotif pengganti dari stasiun terdekat. Dhuarrr….. Dan hilanglah lamunan saya beserta percakapan imajinatif saya dan Pak Jonan. Hahaha.. Seluruh lamunan saya sekarang berganti dengan perasaan gelisah yang nyata.


Ternyata memang masih harus banyak belajar. PT KAI. GKP. Saya juga.

Friday, September 12, 2014

Alam Yang Merancangkannya Untukku

Dua belas September 2014 ini sepertinya spesial tidak hanya untuk dia, tapi juga untuk aku.
Fave-nya dia yg kotak coklat di kanan atas
Betul, hari ini tepat dia berusia 31 tahun sebagai seorang manusia.

Pikiranku melanglangbuana ke alam imajiner ketika menyiapkan nasi kuning untuk sarapan spesial kami pagi ini. Spesial karena ada lilinnya :D Kalo nasi kuningnya sih tetap nasi kuning made in ibu penjual di dekat komplek rumah, heee...

Pikiranku melanglang buana ke percakapan kami beberapa hari sebelumnya :
A : Besok mau hadiah apa? Parfum favorit?
B : Parfum lagi....
A : Mau apa atuh?
B : Kalo (Samsung) Grand gimana? *pasang muka lucu.
A : Kok itu? Kan ga perlu tho. Orang masih ada (Nokia) Lumia. *mulai negosiasi.
B : Uhm.. Kalo gitu isiin pulsa normal & pulsa internet terus? Eh, jangan ding. Hmm.. Hadiahnya : kamu bisa pulang kantor cepet setiap hari. Nggak pulang malem terus. Itu udah jadi pengganti hadiah sepanjang tahun.

A : *speechless. Mbrebes mili, miris, pedih, sambil keukeuh bungkus kado parfum. Nancepnya tuh di sini 


Lalu, pikiranku juga melayang ke bagian tentang para mertua; ya mertuaku dan mertua dia.
Mertuaku itu masih dinas di Kabupaten Cianjur, dan bisa jadi ada hari-hari tertentu yang tidak bisa diganggu jadwalnya. Tapi kok ya lha ndalah beliau mau dan bersedia dimintai tolong untuk membelikan beberapa kotak bolu ketan hitam favorit dia. Mintanya 4, dibelikan 6. Yeaayyy.... Nggak cuman beli. Tapi beliau juga mau nitipin ke bis jurusan ke Bandung supaya bisa kami terima dihari yang sama. Yeaayy dua kali ^_^
*lagi mikir, alam yang bekerja dan merancangkan dan membantu aku..


Mencintaimu dengan sederhana :-*
Lalu beralih ke mertua dia. Sang Mertua memang sudah waktunya pergi ke Bandung untuk mengurusi suatu hal. Beberapa hari yang lalu bilangnya mau datang hari Rabu. Tapi kok ya lha ndalah datangnya malah hari Kamis sore dan memutuskan menginap. Bangun subuh di keesokan harinya, justru sang mertualah yang pertama kali memberikan peluk selamat bertambah usia. Fiuhh...

*mikir lagi, alam yang membantu aku untuk selalu belajar bersyukur untuk setiap kehadiran manusia lain di hidupku.


My birthday man

Dan, karena alam sudah merancangkannya untukku, aku hanya perlu menyambut dan meresponnya dengan sukacita dan penuh kelapangan hati. Lalu kususunlah sebuah sarapan sederhana untuk kami berdua : bolu ketan hitam, kotak hadiah, nasi kuning dengan modifikasi bentuk a la aku, dan tiga lilin utama plus 1 lilin kecil warna merah jambu di nampan nasi kuningnya.

Inilah duabelas september duaribu empatbelas. Aku dan dia dalam keheningan berdua, mengucap syukur, dan mencinta.


*DIA yang ku ceritakan di atas adalah pria yang aku nikahi 3 tahun lalu :)

*Oia Suami, karena permintaanmu supaya aku nggak pulang malam, ayooo 2 minggu ke depan kita pergi ke tempat asing. Cuman kita deehh.. Jadi kalo pulang malem, ya pulang sama-sama. Lha wong perginya sama-sama :D