Sebutlah ini sebagai identitas :
- ada darah Yogyakarta-Jawa Timur mengalir
- hidup di tanah Priangan
- beragam Kristen Protestan
Dengan identitas itu, apakah sebuah 'keberdosaan' jika si sosok itu mencintai Indonesia?
Mari coba dengan kombinasi identitas lain :
- mengalir darah Minang
- hidup di tanah Maluku
- mengimani Penciptanya, Nabinya, dan Kitab Sucinya.
Apakah dia akan serta menjadi pendosa saat mencinta Indonesia dengan segenap jiwa raga?
Apakah identitas asal usul dan keimanan kepada Sang Semesta menjadi sesuatu yang harus dipertentangkan dengan Indonesia?
Menjadi seorang Indonesia bukanlah sebuah kebanggaan. Akan aneh rasanya kalau kita bilang bahwa kita bangga menjadi orang Indonesia. Karena kebanggaan adalah sesuatu yang kita kerjakan dan perjuangkan untuk dicapai.
Menjadi seorang Indonesia bukanlah sesuatu yang kita pilih pada saat masih berbentuk embrio. Apakah kita pernah meminta untuk terlahir di savana milik manusia Aborigin? Atau meminta terlahir di sebuah gedung rumah sakit modern milik pemerintah Washington? Atau lahir di tengah medan perang Sarajevo?
Bersyukur. Sepertinya itu yang lebih pas dipakai sebagai korelasi antara kita dan Indonesia.
Bersyukur merasakan dan menikmati betapa rayanya negeri ini. Aneka kearifan lokal di tiap wilayah, kekayaan motif etnik dan filosofinya, pantai rupawan, gunung menjulang gagah, hutan sejuk nan mempesona, kuliner otentik, flora nan cantik, fauna eksotis, matahari bersinar sepanjang tahun di sepanjang garis katulistiwa, dan silakan tambahkan lagi daftarnya.
Oh iya, tentu saja ada banyak ketimpangan di sana sini. Yang miskin tak sekolah, yang tak punya uang tak bisa berobat. Polusi pekat di banyak ibu kota, ribuan hektar hutan rutin terbakar setiap tahun. Pemegang kekuasaan tidak mengayomi malah sewenang-wenang, para pejuang terhimpit dan malah dibungkam. Si rakus tak segan membuang makanan di saat perut si jelata melilit memakan angin. Saat senior tidak ragu membuang tisu dari mobil mewahnya, dan si junior tak paham santun saat berinteraksi. Semakin bertambah daftarnya, semakin mengusik rasa malu dan harga diri. Semakin banyak menyebut kebobrokannya, semakin besar pula keinginanmu untuk mencaci negeri ini.
Tulisan ini ku pastikan adalah coretan tanpa ujung. Karena kita masih hidup. Karena Indonesia masih berdiri. Semua masih menjalani masa kini dan di sini.
Kecintaan kepada Tanah Air ini tidak perlu dipertentangkan dengan keimanan. Kecintaan kepada Negeri ini adalah ungkapan syukur kepada Sang Esa.
Itu menurutku. Menurutmu?
Tuesday, September 3, 2019
Thursday, August 15, 2019
Bukan Sajak Rindu, tapi Sakit
Di luar, sinar bulan mempercantik langit malam dengan bulat sempurnanya.
Banyak mata memandang takjub akan pesonanya.
Mataku pun lama menancapkan pandang pada lingkaran indah yang menggantung di langit itu.
Tapi malam ini berbeda. Indah hanya di mata. Tidak dengan hawa yang menyelimutiku. Terasa ngilu. Tajam menembus kulit. Menarik bulu tubuh tegak berdiri. Pedih di mata. Sesak di hidung.
Oh ya, tentu saja masih tersisa hangat. Tapi ternyata hangat tak nyaman di sekeliling tengkuk dan dahi. Ah, ilusi semata rupanya
Kau tahu namanya?
Influenza 😪
Banyak mata memandang takjub akan pesonanya.
Mataku pun lama menancapkan pandang pada lingkaran indah yang menggantung di langit itu.
Tapi malam ini berbeda. Indah hanya di mata. Tidak dengan hawa yang menyelimutiku. Terasa ngilu. Tajam menembus kulit. Menarik bulu tubuh tegak berdiri. Pedih di mata. Sesak di hidung.
Oh ya, tentu saja masih tersisa hangat. Tapi ternyata hangat tak nyaman di sekeliling tengkuk dan dahi. Ah, ilusi semata rupanya
Kau tahu namanya?
Influenza 😪
![]() |
| Ini foto waktu flu sebelumnya :D |
Thursday, January 10, 2019
Sepertinya Aku Rindu
Ku paksa pintu mobil menahan beban tubuhku
Lalu ku pasrahkan kepalaku pada kacanya
Berharap itu adalah bahumu
Ku nikmati gulita di bawah langit
Gelap yang tanpa kepayahan mengundang kantuk
Tapi ada pendar hangat memanggilku untuk mendongak
Temaram purnama ternyata
"Kamu kenapa?" tanyanya
Tak ku jawab.
Tetiba anganku mengembara ke masa yang lewat
Ku ingat pernah ada khayal menyelinap di malamku
Ku ingat pernah ada kupu-kupu menyerang perutku
Ku ingat gelisah yang mengganggu lelapku
Sepertinya aku rindu.
~ ~
(Sebuah coretan dari selembar kertas lusuh di dalam buku usang nan berdebu yang tertumpuk bertahun lalu)
Lalu ku pasrahkan kepalaku pada kacanya
Berharap itu adalah bahumu
Ku nikmati gulita di bawah langit
Gelap yang tanpa kepayahan mengundang kantuk
Tapi ada pendar hangat memanggilku untuk mendongak
Temaram purnama ternyata
"Kamu kenapa?" tanyanya
Tak ku jawab.
Tetiba anganku mengembara ke masa yang lewat
Ku ingat pernah ada khayal menyelinap di malamku
Ku ingat pernah ada kupu-kupu menyerang perutku
Ku ingat gelisah yang mengganggu lelapku
Sepertinya aku rindu.
~ ~
(Sebuah coretan dari selembar kertas lusuh di dalam buku usang nan berdebu yang tertumpuk bertahun lalu)
Friday, May 5, 2017
Sang Pisang dan Aku
Kalo
baca status aku yang ini, pada percaya nggak sih kalo makanan itu tuh benar
adanya enak di lidah? J
Cita-cita,
harapan & keinginan : Ada.
Bagus
kan ya punya keinginan untuk mulai makan makanan sehat biar sehat dan langsing
(bonusnya)?
Harapan
bagus, supaya jadi bagus ya harus dikerjakan.
Mau
makan "two ingredients banana pancake" sehat, ya kudu turun ke dapur
dan mulai mengolah.
Pisang
dikupas, dihaluskan pakai garpu, pecahin 2 butir telur, aduk rata, panaskan
teflon & mulai masukin adonan ke teflon. Matang. Angkat. Nggak kurang nggak
lebih.
Naaah,
di sini nih beberapa skill diasah.
Gosong?
Ada.
Hasilnya
hancur? Ada.
Adonan
lengket di teflon? Pasti.
Berhenti? Sayaaang
atuh kalo adonan dibuang. Itu kan makanan. Ada orang di luar sana yang untuk
beli telur aja mikir :(
Jadi,
pilihannya hanya : lanjut dan selesaikan.
Kepanasan?
Kerasa lah.
Panik?
Mulai naik levelnya.
Kuciwa?
Ada juga.
Nunggu
mateng? Mulai gak sabar.
Harus
makan sendiri karena gak ada yang suka?
Hahahhaa.... Sepertinya inilah akhir
dari test pengelolaan emosi hari itu.
Ternyata,
mewujudkan harapan itu perlu persiapan. Harapan sederhana sekalipun.
Latihan
ngebalik gorengan, perlu diasah terus. Paham tekstur makanan dan mengira-ngira
kematangan, juga perlu latihan dan feeling yang kuat. Itu tehnisnya.
Soal
mental. Apakah hatimu nggak berantakan juga kalau pancake-mu terburai
acak-acakan? :D ditambah pula mendapati satu sisi terlihat hitam karena gosong?
Apalagi ketika beberapa orang yang kamu minta untuk mencicip, tapi raut
wajahnya tetiba berubah kaya orang kebelet pipis. Apa jawabmu, sodara-sodara?
Pengelolaan
emosi penting banget kan?
Aku
tahu banget kalau pisang dan telur itu makanan penuh gizi dan enak tiada tara.
Aku memasak mereka juga dalam rangka untuk memberi nutrisi ke badan aku. Dari
sisi spiritual, aku bersyukur masih diberi nikmat hebat ini. Dan aku mau
memakan mereka :)
Maka,
ku pandangi sang pisang dengan senyum. Kukunyah perlahan dan ditelan dengan
menikmati manisnya. Tidak ada yang buruk dari masakanku ini. Dan, aku akan
mengulangnya di hari-hari mendatang.
Itu
sudah.
Cerita
tentang Sang Pisang dan Aku.
Saturday, January 21, 2017
Alisku
![]() |
| Ini alis yang cetar alaminya :D |
Tapi kalo ngliat alisku, rasanya jadi rada pede. Soalnya jarang ngliat alis begini. Hitam, legam, lebat, nyambung, dan punya lengkung alami 😁
Ada yang ngeh kalo alis ku itu asli buatan sononya, tapi masih ada juga yang nyangka kalo aku pake pensil alis yg super tebel dan legam. Sampe-sampe orang itu ku suruh pegang alisku biar percaya, hahaha...
Jaman sebelum nikah, alisku gak pernah diapa-apain. Dengerin kata Ibuku kalau perempuan jawa itu alisnya kudu alami sebelum didandanin pas nikah. "Baik, Nyah" :)
![]() |
| Step by step mencukur alis ala Jeng Ran |
Nah, setelah cukup lama kenalan sama Oriflame, mulai tau deh tuh beberapa tips dandan, termasuk
merapihkan alis. Kebanyakan tutorial selalu menebalkan alis dengan pewarna tambahan (seperti pensil alis, eyeliner, atau eyeshadow), tapi kan alisku udah iteeeem banget. Ngapain ditambahin warna? Trus buat mempertegas bingkai, disaranin nutup pakai concealer. Lah, punya ku mana bisa? Lha wong rimbun bangettt.
Lalu mulailah belajar cabut alis. Hiyyy... serem ya? Ini ngikutin cara Ibu aku. Bisa tahan lebih lama karena dicabut sampai akar. Tapi seringkali perih pas bagian kelopak mata euy. Jadi ya gondrong lagi deh si alis. Mau nyoba cukur, tapi sama sekali blom pernah nyoba. Takut salah (nah, ini nih penyakit orang males. Selalu pake alasan "takut salah" lah, "takut gagal" lah. Huih.. Kalo takut mulu, kapan jadi cantik? :p ) Akhirnya ada seorang sahabat yang menyarankan "Cukur aja Ran. Sebelom cukur, itu si gondrongnya olesin lotion dulu. Biar licin & gak perih."
![]() |
| Sumber : Jar of Quote |
Just try what you what to try, cause you'll never know until you try :)
Friday, January 20, 2017
Air Terjun "Curug Cibeureum" & Kerjaan
![]() |
| 2015 Puncak Gunung Gede |
Dua tahun lalu berturut-turut, sebenernya juga udah pernah main ke sini. Tahun 2015 naik ke Puncak Gunung Gede, dan pertengahan 2016 lalu juga hiking main ke air terjunnya.
Waktu hiking tahun 2016, masih keinget banget rasa engap-nya nanjak. Tau kan engap? Sesek di dada dan tenggorokan, pening dan penglihatan agak kabur, ditambah mual dan muntahin angin :D
![]() |
| 2016 - Setelah eneg, dibayar sama yang sejukkk... |
Lalu, sekarang mau cerita tentang hiking yang awal tahun ini. Teman nanjaknya cukup bersahabat dan memahami "kekurangan" ku (Rasanya sih gitu. Atau aku yang GR yak? :D ). Jadi dengan dalih menikmati alam dengan melihat berbagai rupa tumbuhan liar atau sekedar berhenti untuk menyimak cicit burung dan mengambil foto owa jawa (sejenis primata dari keluarga monyet), perjalanan hiking kali ini emang santaaaai banget. Nggak engap, nggak sesak, nggak pening, nggak kenapa-napa, karena jalan perlahan dan tau kapan harus berhenti kalau mulai kerasa engap. Beneran menikmati udara segar yang udah jarang dihirup di Bandung. Setibanya di curug (air terjun), langsung deh ngebiarin diri diguyur air super sejuk. Brrr... Segerrr....
![]() |
| Hiking 2017 Setelah lewat gerbang, hp langsung dimatiin. Gak pake acara selfie lagi :D |
Oh iya.. rasa engap itu seringkali ngingetin aku dengan kerjaanku sekarang. Yang nggak jarang nemuin engap karena ketemu sama orang-orang yang nggak bisa diajak kerjasama, ketemu sama soal teknis yang rada lama diselesaikan karena masalah komunikasi, ketemu sama hal-hal yang bikin pening deh :D Tapi kalau pening, sesak, kabur pandangan, dkk itu bisa diatur, dan tetap jalan terus, di akhir bulan biasanya kebayar sama yang seger-seger. Gajian cuy, hohohoh..
Ya udah. Mau cerita gitu aja. Kapan-kapan mau camping ke gunung lagi ahhh.... Ikutan yok?
Thursday, May 12, 2016
Dia Bukan Anak Nakal - Sebuah Perjumpaan Dengan Batita
Panggilannya Chia. Nama lengkapnya Felichia Ayu Pandika.Ini adalah pertemuan ketiga aku dengan dia. Yang pertama, sama sekali tidak bertegur sapa. Mungkin karena aku masih asing sama sekali, ditambah waktu itu dia sedang sakit juga. Yang kedua, mulai tidak keberatan aku pangku, lalu digendong, dan saat perpisahan, dia menjerit nangis karena aku pergi meninggalkan Jogja. Pertemuan ketiga masih belum cukup smooth. Di awal-awal dia masih jual mahal :D tapi lama kelamaan, jadilah dia sangat lengket denganku dan Aa (suamiku).
Yang mau ku ceritakan kali ini adalah toddler is a great imitator.
Begini ceritanya. Cia itu suka sekali dengan permainan bunyi. Mulai dari "cilukbaaa" sampai meniru bunyi-bunyian binatang. Maka dari itu, untuk menghangatkan suasana pertemuan, berbagai bunyi-bunyian kami coba ciptakan biar dia tidak perlu merasa asing dengan kami. Mulai dengen "cilukbaa", bunyi "miaw" dan "guuukguk", sampai bunyi mengorok dan pura-pura tidur. Tidak sekali atau dua kali. Cukup sering karena si bocah memang senang mendengar bunyi-bunyian.
Durasi perjumpaan kami tidak sampai 24 jam sehari kok. Paling hanya pagi hari sampai jelang dia mau bobo siang. Lalu dengan sore sampai malam hari sebelum dia kelihatan mengantuk.
Di hari ketiga jumpa, ketika sedang bermain bunyi-bunyian, dia menggoda Aa dengan bunyi "rrrrkkkk...." seperti bunyi mengorok pada orang tidur. Sekali. Dua kali. Dan dilakukan cukup mirip dengan bunyi ngorok yang Aa pernah mainkan dengan dia.
Haaa? Dia meniru bunyi dari Aa? Secepat ini bocah yang belum genap 2 tahun meniru orang di dekatnya? Lihat sekali dia.
![]() |
| Sumber : Pinterest |
Saya belum pernah belajar psikologi anak, maupun memiliki anak :p
Tapi melihat perilaku Cia (dan banyak artikel lain yang membahas tentang tumbuh kembang anak), rasanya benar ketika ada quote yang berbunyi seperti gambar di samping, "Children are great imitators."
Cia saja yang baru berjumpa dengan kami beberapa hari, sudah 'bisa' meniru yang kami lakukan (walau ini adalah sebuah candaan). Apalagi jika bocah ini bersama dalam waktu yang lama? Pasti akan ada lebih banyak hal yang akan dia tiru.
Lalu tetiba pikiranku melayang pada beberapa ungkapan kawan yang pernah bilang, "Aduuh.. anak aku rewel," "Anak aku selalu ngrebut hape aku," "Anak aku nggak bisa diem. Selalu bikin rusak," "Dek.. Nggak boleh nakal ya.." (ngomong ke anaknya di depan aku) dan kalimat-kalimat lain yang bikin aku sedih.
Kalau mereka rewel, mereka merebut hp, mereka bikin rusak, itu mereka ngliat siapa? Hal apa saja yang mereka terima di keseharian mereka? Siapa yang memberi contoh? Kenapa dikasih wejangan "jangan nakal"? Padahal mereka nggak ngapa-ngapain jugak. Hadeuuhh...
Mungkin, mungkin sebenarnya mereka itu para orang tua yang sedang kelelahan aja. Jadi cerita mereka terdengar seperti nge-cap di telingaku. Tapi tetap saja, telingaku rasanya agak nggak terima (haduuhh.. padahal bukan anak gue jugak... Maapkan akuuu...)
Aku sedih karena anak sekecil itu harus menerima rupa-rupa "tuduhan" dari orang dewasa. Anak sekecil itu harus menerima cap buruk dari orang yang lebih dewasa. Anak sekecil itu ....
Ah, sudahlah.. Aku akan dianggap lebay dan pengen ikutan urusan dapur orang kalo melanjutkan tulisan yang baper inih. Hahaha....
Untuk Cia. Cia, kamu itu hebat dan berani. Teruslah menjadi Cia yang menyenangi bunyi-bunyi dan menjadi kayalah dengan semua imajinasimu tentang rupa-rupa bunyi itu. ^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)








