Thursday, January 10, 2019

Sepertinya Aku Rindu

Ku paksa pintu mobil menahan beban tubuhku
Lalu ku pasrahkan kepalaku pada kacanya
Berharap itu adalah bahumu

Ku nikmati gulita di bawah langit
Gelap yang tanpa kepayahan mengundang kantuk
Tapi ada pendar hangat memanggilku untuk mendongak
Temaram purnama ternyata
"Kamu kenapa?" tanyanya
Tak ku jawab.

Tetiba anganku mengembara ke masa yang lewat
Ku ingat pernah ada khayal menyelinap di malamku
Ku ingat pernah ada kupu-kupu menyerang perutku
Ku ingat gelisah yang mengganggu lelapku

Sepertinya aku rindu.

~ ~
(Sebuah coretan dari selembar kertas lusuh di dalam buku usang nan berdebu yang tertumpuk bertahun lalu)

Friday, May 5, 2017

Sang Pisang dan Aku

Kalo baca status aku yang ini, pada percaya nggak sih kalo makanan itu tuh benar adanya enak di lidah? J

Berawal dari kekaguman kepada Dewi Hughes  yang punya berat 150 kg dan dalam waktu 8 bulan berhasil menurunkan berat badan sampai ke 75 kg, dan tetap dalam keadaan sehat badannya. Dari salah satu video youtube-nya, sempet dia cerita tentang banana cake yang sehat, tidak pakai tepung, margarin, gula tambahan atau apapun, dan tetap enak. Gue kepo dong. And universe helps me dengan memunculkan video iklan di Facebook tentang “Two Ingredients Pancake” yang mana hanya pake pisang dan telur. WOW! Ini kudu dicoba. Dan, di pagi yang sejuk, uplek uplek lah aku di dapur.

Cita-cita, harapan & keinginan : Ada.
Bagus kan ya punya keinginan untuk mulai makan makanan sehat biar sehat dan langsing (bonusnya)?
Harapan bagus, supaya jadi bagus ya harus dikerjakan.
Mau makan "two ingredients banana pancake" sehat, ya kudu turun ke dapur dan mulai mengolah.
Pisang dikupas, dihaluskan pakai garpu, pecahin 2 butir telur, aduk rata, panaskan teflon & mulai masukin adonan ke teflon. Matang. Angkat. Nggak kurang nggak lebih.

Naaah, di sini nih beberapa skill diasah.

Liat gambar ini.
Gosong? Ada.
Hasilnya hancur? Ada.
Adonan lengket di teflon? Pasti.
Berhenti? Sayaaang atuh kalo adonan dibuang. Itu kan makanan. Ada orang di luar sana yang untuk beli telur aja mikir :(
Jadi, pilihannya hanya : lanjut dan selesaikan.

Kepanasan? Kerasa lah.
Panik? Mulai naik levelnya.
Kuciwa? Ada juga.
Nunggu mateng? Mulai gak sabar.
Harus makan sendiri karena gak ada yang suka?
Hahahhaa.... Sepertinya inilah akhir dari test pengelolaan emosi hari itu.

Ternyata, mewujudkan harapan itu perlu persiapan. Harapan sederhana sekalipun.

Latihan ngebalik gorengan, perlu diasah terus. Paham tekstur makanan dan mengira-ngira kematangan, juga perlu latihan dan feeling yang kuat. Itu tehnisnya.

Soal mental. Apakah hatimu nggak berantakan juga kalau pancake-mu terburai acak-acakan? :D ditambah pula mendapati satu sisi terlihat hitam karena gosong? Apalagi ketika beberapa orang yang kamu minta untuk mencicip, tapi raut wajahnya tetiba berubah kaya orang kebelet pipis. Apa jawabmu, sodara-sodara?
Pengelolaan emosi penting banget kan?

Aku tahu banget kalau pisang dan telur itu makanan penuh gizi dan enak tiada tara. Aku memasak mereka juga dalam rangka untuk memberi nutrisi ke badan aku. Dari sisi spiritual, aku bersyukur masih diberi nikmat hebat ini. Dan aku mau memakan mereka :)

Maka, ku pandangi sang pisang dengan senyum. Kukunyah perlahan dan ditelan dengan menikmati manisnya. Tidak ada yang buruk dari masakanku ini. Dan, aku akan mengulangnya di hari-hari mendatang.

Itu sudah.

Cerita tentang Sang Pisang dan Aku.

Saturday, January 21, 2017

Alisku

Ini alis yang cetar alaminya :D
Dulu minder banget karena tubuhku diselimuti rambut yang banyaaaaakkk, dibanding perempuan lain. Seiring waktu, ya mulai bisa nerima sih :D walau kadang masih ada mindernya.

Tapi kalo ngliat alisku, rasanya jadi rada pede. Soalnya jarang ngliat alis begini. Hitam, legam, lebat, nyambung, dan punya lengkung alami 😁

Ada yang ngeh kalo alis ku itu asli buatan sononya, tapi masih ada juga yang nyangka kalo aku pake pensil alis yg super tebel dan legam. Sampe-sampe orang itu ku suruh pegang alisku biar percaya, hahaha...

Jaman sebelum nikah, alisku gak pernah diapa-apain. Dengerin kata Ibuku kalau perempuan jawa itu alisnya kudu alami sebelum didandanin pas nikah. "Baik, Nyah" :)

Step by step mencukur alis ala Jeng Ran
Setelah nikah pun aku nggak membabi buta pengen ngapa-ngapain alis. Jaman itu belom ngeh sama yang namanya dandan. Pake foundation cemong-cemong, terang di muka gelap di leher, hahaha.. Gak bisa pakai maskara, kalo pake eyeliner selalu nyolokin mata. Hadeuuh.. Wis, pokoknya ndak bagus sama sekalilah.

Nah, setelah cukup lama kenalan sama Oriflame, mulai tau deh tuh beberapa tips dandan, termasuk
merapihkan alis. Kebanyakan tutorial selalu menebalkan alis dengan pewarna tambahan (seperti pensil alis, eyeliner, atau eyeshadow), tapi kan alisku udah iteeeem banget. Ngapain ditambahin warna? Trus buat mempertegas bingkai, disaranin nutup pakai concealer. Lah, punya ku mana bisa? Lha wong rimbun bangettt.

Lalu mulailah belajar cabut alis. Hiyyy... serem ya? Ini ngikutin cara Ibu aku. Bisa tahan lebih lama karena dicabut sampai akar. Tapi seringkali perih pas bagian kelopak mata euy. Jadi ya gondrong lagi deh si alis. Mau nyoba cukur, tapi sama sekali blom pernah nyoba. Takut salah (nah, ini nih penyakit orang males. Selalu pake alasan "takut salah" lah, "takut gagal" lah. Huih.. Kalo takut mulu, kapan jadi cantik? :p ) Akhirnya ada seorang sahabat yang menyarankan "Cukur aja Ran. Sebelom cukur, itu si gondrongnya olesin lotion dulu. Biar licin & gak perih."

Sumber : Jar of Quote
Berbekal keberanian, mulailah praktek cukur-cukuran. Gak langsung cakep kaya di foto di atas itu lho. Pertama cukur di bagian kelopak dulu. Yang penting gak rimbun. Lalu diulangin beberapa minggu kemudian. Bulan-bulan berikutnya mulai nyobain ngebentuk ngikutin lengkung. Pernah kelebihan nyukurnya, jadi kesannya rada gundul :D tunggu gondrong, baru deh coba cukur lagi. Lama-lama ya jadi bisa ngrasain batas-batas dimana harus dicukur dan ngukur yang alami ala aku.

Just try what you what to try, cause you'll never know until you try :)

Friday, January 20, 2017

Air Terjun "Curug Cibeureum" & Kerjaan

2015
Puncak Gunung Gede
Untuk ngisi libur awal tahun, Senin, 9 Januari 2017 lalu aku jalan ke Kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Bukan untuk mendaki gunungnya, tapi cuman main ke air terjun yang ada di kaki gunungnya.

Dua tahun lalu berturut-turut, sebenernya juga udah pernah main ke sini. Tahun 2015 naik ke Puncak Gunung Gede, dan pertengahan 2016 lalu juga hiking main ke air terjunnya.

Waktu hiking tahun 2016, masih keinget banget rasa engap-nya nanjak. Tau kan engap? Sesek di dada dan tenggorokan, pening dan penglihatan agak kabur, ditambah mual dan muntahin angin :D

2016 - Setelah eneg, dibayar sama
yang sejukkk...
Serius, gak enak banget! Saat itu emang teman hiking-nya seorang senior yang udah biasa nanjak-nanjak. Puncak Himalaya juga udah pernah beliau daki. Da aku mah apa atuh? Tangkuban Perahu aja blom pernah keinjek, hahahaha... Beliau yang jalan super cepat, dan aku yang slow ini antara jaga gengsi tapi gak kuat, jadilah engap. Hahaha... Lain kali, persiapannya mesti lebih serius.

Lalu, sekarang mau cerita tentang hiking yang awal tahun ini. Teman nanjaknya cukup bersahabat dan memahami "kekurangan" ku (Rasanya sih gitu. Atau aku yang GR yak? :D ). Jadi dengan dalih menikmati alam dengan melihat berbagai rupa tumbuhan liar atau sekedar berhenti untuk menyimak cicit burung dan mengambil foto owa jawa (sejenis primata dari keluarga monyet), perjalanan hiking kali ini emang santaaaai banget. Nggak engap, nggak sesak, nggak pening, nggak kenapa-napa, karena jalan perlahan dan tau kapan harus berhenti kalau mulai kerasa engap. Beneran menikmati udara segar yang udah jarang dihirup di Bandung. Setibanya di curug (air terjun), langsung deh ngebiarin diri diguyur air super sejuk. Brrr... Segerrr....
Hiking 2017
Setelah lewat gerbang,
hp langsung dimatiin.
Gak pake acara selfie lagi :D

Oh iya.. rasa engap itu seringkali ngingetin aku dengan kerjaanku sekarang. Yang nggak jarang nemuin engap karena ketemu sama orang-orang yang nggak bisa diajak kerjasama, ketemu sama soal teknis yang rada lama diselesaikan karena masalah komunikasi, ketemu sama hal-hal yang bikin pening deh :D Tapi kalau pening, sesak, kabur pandangan, dkk itu bisa diatur, dan tetap jalan terus, di akhir bulan biasanya kebayar sama yang seger-seger. Gajian cuy, hohohoh..
Ya udah. Mau cerita gitu aja. Kapan-kapan mau camping ke gunung lagi ahhh.... Ikutan yok?


Thursday, May 12, 2016

Dia Bukan Anak Nakal - Sebuah Perjumpaan Dengan Batita

Panggilannya Chia. Nama lengkapnya Felichia Ayu Pandika.

Ini adalah pertemuan ketiga aku dengan dia. Yang pertama, sama sekali tidak bertegur sapa. Mungkin karena aku masih asing sama sekali, ditambah waktu itu dia sedang sakit juga. Yang kedua, mulai tidak keberatan aku pangku, lalu digendong, dan saat perpisahan, dia menjerit nangis karena aku pergi meninggalkan Jogja. Pertemuan ketiga masih belum cukup smooth. Di awal-awal dia masih jual mahal :D tapi lama kelamaan, jadilah dia sangat lengket denganku dan Aa (suamiku).

Yang mau ku ceritakan kali ini adalah toddler is a great imitator.

Begini ceritanya. Cia itu suka sekali dengan permainan bunyi. Mulai dari "cilukbaaa" sampai meniru bunyi-bunyian binatang. Maka dari itu, untuk menghangatkan suasana pertemuan, berbagai bunyi-bunyian kami coba ciptakan biar dia tidak perlu merasa asing dengan kami. Mulai dengen "cilukbaa", bunyi "miaw" dan "guuukguk", sampai bunyi mengorok dan pura-pura tidur. Tidak sekali atau dua kali. Cukup sering karena si bocah memang senang mendengar bunyi-bunyian.
Durasi perjumpaan kami tidak sampai 24 jam sehari kok. Paling hanya pagi hari sampai jelang dia mau bobo siang. Lalu dengan sore sampai malam hari sebelum dia kelihatan mengantuk.

Di hari ketiga jumpa, ketika sedang bermain bunyi-bunyian, dia menggoda Aa dengan bunyi "rrrrkkkk...." seperti bunyi mengorok pada orang tidur. Sekali. Dua kali. Dan dilakukan cukup mirip dengan bunyi ngorok yang Aa pernah mainkan dengan dia.

Haaa? Dia meniru bunyi dari Aa? Secepat ini bocah yang belum genap 2 tahun meniru orang di dekatnya? Lihat sekali dia.
Sumber : Pinterest

Saya belum pernah belajar psikologi anak, maupun memiliki anak :p
Tapi melihat perilaku Cia (dan banyak artikel lain yang membahas tentang tumbuh kembang anak), rasanya benar ketika ada quote yang berbunyi seperti gambar di samping, "Children are great imitators."

Cia saja yang baru berjumpa dengan kami beberapa hari, sudah 'bisa' meniru yang kami lakukan (walau ini adalah sebuah candaan). Apalagi jika bocah ini bersama dalam waktu yang lama? Pasti akan ada lebih banyak hal yang akan dia tiru.

Lalu tetiba pikiranku melayang pada beberapa ungkapan kawan yang pernah bilang, "Aduuh.. anak aku rewel," "Anak aku selalu ngrebut hape aku," "Anak aku nggak bisa diem. Selalu bikin rusak," "Dek.. Nggak boleh nakal ya.." (ngomong ke anaknya di depan aku) dan kalimat-kalimat lain yang bikin aku sedih.
Kalau mereka rewel, mereka merebut hp, mereka bikin rusak, itu mereka ngliat siapa? Hal apa saja yang mereka terima di keseharian mereka? Siapa yang memberi contoh? Kenapa dikasih wejangan "jangan nakal"? Padahal mereka nggak ngapa-ngapain jugak. Hadeuuhh...

Mungkin, mungkin sebenarnya mereka itu para orang tua yang sedang kelelahan aja. Jadi cerita mereka terdengar seperti nge-cap di telingaku. Tapi tetap saja, telingaku rasanya agak nggak terima (haduuhh.. padahal bukan anak gue jugak... Maapkan akuuu...)
Aku sedih karena anak sekecil itu harus menerima rupa-rupa "tuduhan" dari orang dewasa. Anak sekecil itu harus menerima cap buruk dari orang yang lebih dewasa. Anak sekecil itu ....

Ah, sudahlah.. Aku akan dianggap lebay dan pengen ikutan urusan dapur orang kalo melanjutkan tulisan yang baper inih. Hahaha....

Untuk Cia. Cia, kamu itu hebat dan berani. Teruslah menjadi Cia yang menyenangi bunyi-bunyi dan menjadi kayalah dengan semua imajinasimu tentang rupa-rupa bunyi itu. ^_^

Monday, March 21, 2016

ABC Adaaa Braaaaapaaa...

Pernah main begituan gak waktu jaman kecil dulu? Sambil bilang "ABC ada berapaaa?" Sambil jari jemari disodorkan ke depan. Lalu jumlah jemari dihitung dengan menggunakan huruf abjad.
Setelah huruf jari terakhir dihitung dan abjad ditentukan, maka masing-masing pemain dengan kecepatan cahaya tongue emotikon langsung menyebutkan 1 kata yang dimulai dengan huruf abjad yg terakhir tadi.
Pernah? Pernah kan? grin emotikon
Nah, tadi siang kami jadinya malah maen "ABC ada berapa.." di kelas, ihihiih..
Sabtu : jadwalnya bagi raport. Minggu : Libur. Senin : Ada perayaan Pesta Nama (eh.. atau apa ya namanya?). Karena ngrasa gak ada PR atau tugas, jadi mereka susaaaaah banget diminta untuk buka buku.
Sumber : http://akkewcoa.pun.bz/
Tapi kan mereka harus belajar sesuatu. Pikir pikir pikir.. Tebak-tebakan nama & warna benda di ruang kelas : Udah. Tapi udah ketebak semua. Pikir pikir pikir.. Criiingg..
Anak-anak ide untuk main "ABC ada berapaaa..." dan jadilah kami maen begituan selama hampir 1 jam. Sampai ada kakak-kakak kelas 4 dan 5 yang jadi ikutan maen 😂
Kesepakatan dibuat di antara mereka. Saya jadi juri yang mengesahkan kesepakatan plus tetep ikutan maiiin dong 😄 Dari sekedar tebak kata, ada waktu hitungan mundur, sampai mereka punya ide untuk coret pipi pake lipstik saya 😂😂
Baiklaahh.. Hayooo kita main "ABC ada berapa" dengan menebak kata dalam bahasa Inggris. Yes. Words in English. And they're doing it soooo good!!
Hari ini saya seneeeng banget bisa (bermain &) belajar kosakata bahasa Inggris sama anak-anak 😄😄
Seruu seruu seruuu!
Semoga masih banyak orang dewasa yang mau memakai metode bermain-sambil-belajar untuk banyak hal. Karena dunianya anak-anak tuh ya main. Ingat! M. A. I. N 😄😄😄
~ ~ ~ ~ ~

Suatu Jumat siang yang cerah di sebuah ruang kos (yang disulap jadi kelas lesehan) pada akhir Maret 2016.

Friday, December 11, 2015

Rumah Belajar “Embrio” : Dua Jam Sebagai Pengganti Peran Ayah-Ibu Bekerja (Part 2)



Main lego sebelum mulai belajar
Menyewa sebuah kamar di rumah kos seharga Rp. 700.000/bulan (pada waktu itu), membeli karpet dan meja-meja kecil, serta memanfaatkan buku-buku sekolah bekas putranya. Dengan memasang bandrol Rp. 300.000/murid/bulan, “Embrio” selalu dicari oleh orang tua murid. Dari sekian anak yang belajar, tentu saja selalu ada anak-anak yang mendapat pengecualian membayar kurang dari Rp.300.000/bulan. Semua berdasarkan kebijaksanaan ibu pendiri. Jadwal belajar Senin s.d Jumat adalah 5 hari. Dalam sebulan berarti ada 20 kali pertemuan. Artinya dengan membayar Rp.300.000/bulan, maka nilai per pertemuan adalah Rp. 15.000/anak. Nilai rupiah yang tidak jauh berbeda dengan satu kali makan siang, bukan? J

Saya bergabung dengan Rumah Belajar “Embrio” pada Juli 2015 lalu. Selain tentang pelajaran Sekolah Dasar, ada hal lain yang saya lihat di sini. Ternyata cukup banyak anak murid yang sengaja dileskan bukan karena kemampuan akademiknya kurang. Tapi karena supaya tidak keluyuran dari sekolah sebelum dijemput orangtuanya. Fenomena yang banyak dijumpai saat ini adalah banyak orang tua (suami dan istri) sama-sama bekerja, sehingga seringkali melewatkan jam belajar di rumah bersama anak-anak mereka. Karena merasa kewalahan dengan energi dan waktu yang tersita di kantor dan pekerjaan masing-masing, maka rumah belajar menjadi solusi alternatif. Selain PR sudah dikerjakan di rumah belajar, anak-anak juga akan terawasi oleh orang dewasa yang dikenal oleh orang tua.

Di satu sisi saya miris melihat fenomena orang tua masa kini yang terlihat seperti abai untuk mendampingi tumbuh-kembang putra-putri mereka. Para orang tua kebanyakan lebih memilihkan kegiatan ekstrakurikuler maupun bermacam-macam les untuk mengisi waktu anak-anak mereka. Si anak sedari subuh sudah harus siap ke sekolah. Di sekolah sampai sekitar jam 12.00. Sepulang sekolah harus menuju ke rumah belajar. Setelah itu masih harus menunggu dijemput orangtuanya. Jadi, “Embrio” ini bukan sekedar rumah belajar saja, tapi juga merangkap ‘menyediakan jasa’ penitipan anak J

Di luar perasaan miris tersebut, tentu saya merasakan banyak manfaat dan pelajaran dari keberadaan “Embrio”. Jika lembaga bimbingan belajar lainnya setelah selesai kelas, si murid harus segera keluar dari kelas. Di “Embrio”, setelah selesai mengerjakan PR, murid masih bisa bercengkerama dengan pengajar. Di lembaga bimbingan belajar lain jika kelas sudah bubar, maka yang terlambat dianggap membolos. Di “Embrio”, jika si murid harus mengikuti kegiatan tambahan di sekolah yang menyebabkan keterlambatan belajar di “Embrio”, masih diperbolehkan masuk ruangan dan mengerjakan PR dengan tetap didampingi pengajar. Di lembaga bimbingan belajar lain, agak sulit membiarkan anak duduk leyeh-leyeh karena kelelahan saat belajar. Di “Embrio”, beberapa kali ada murid yang tertidur a


tau sekedar berbaring di lantai karpet setelah ‘ngambek’ karena sedang bad mood dan lelah. Selama dalam posisi tenang, teman-teman lainnya tetap bisa belajar seperti biasa. Yang tertidur? Ya dibiarkan saja. Namanya juga capek.

Membantu mengeringkan genangan air
Ada nilai keakraban dan ikatan yang lebih dari sekedar hubungan berjuluk pengajar-murid. Pengajar juga masih memerlukan penghasilan tambahan agar ‘dapur tetap mengepul’. Tapi rasa kepuasannya jauh sekali ketika membandingkan Rp. 15.000/hari/anak dengan sukacita dua jam per hari menjadi pendamping mereka untuk ‘menggantikan’ peran orang tua yang masih berada di tempat kerjanya masing-masing. Apalagi jika peserta belajar melaporkan nilai ulangan mereka yang di atas 80. Rasa lelah mendengarkan ocehan mereka seperti hilang seketika.

Memang pada mulanya “Embrio” dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup si pendiri. Dengan bekal kesukaannya atas dunia anak-anak dan matematika, “Embrio” terus bertumbuh. Sampai saat ini tercatat ada 23 peserta belajar dengan 2 pengajar. Ada harapan ke depan bahwa “Embrio” tidak lagi dikerjakan secara personal, berdua, atau bertiga saja. Namun bisa menjadi bagian dari program pelayanan gereja yang memberdayakan warganya. Diakonia yang kebanyakan dilaksanakan oleh gereja baru ‘sekedar’ memberikan bantuan sembako, biaya pendidikan, atau keringanan biaya berobat. Banyak gereja memilih bidang pertanian, peternakan, atau kerajinan tangan sebagai alternatif untuk pengembangan diakonia transformatif. Tapi belum banyak yang menunjukan kemajuan signifikan. Ya, beberapa ada yang berhasil membangun komunitas produktif. Tapi banyak juga yang hilang kabar beritanya.

Ketika gereja, secara lembaga, mengusung tema “Menjadi Berkat bagi Sesama” maka semestinya direalisasikan bukan ‘hanya’ di dalam gedung gereja. Tapi sungguh-sungguh memikirkan strategi pengembangan untuk menjangkau keluar tembok gereja. Tentu saja dimulai dan digerakan oleh warganya sendiri. Bidang pendidikan bisa menjadi salah satu alternatif yang digarap gereja untuk memulai gerakan diakonia transformatif sekaligus ikut berperan serta dalam meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Main rumah-rumahan dulu

“Embrio” memiliki rencana ke depan untuk menerima lebih banyak peserta belajar dan membuka cabang rumah belajar, serta membuka kelas pra sekolah dasar. Ketika ide dan program ini direspon oleh gereja, ada harapan bahwa program ini akan lebih banyak menjangkau warga jemaat dari berbagai rentang usia dan latar belakang (misalnya : melibatkan pemuda gereja yang belum mendapatkan pekerjaan, memberikan wahana pelatihan dan atau pilihan ladang pelayanan bagi mahasiswa/siswa, bahkan menjadi pilihan bagi orang-orang yang tidak bisa menyanyi atau bermain musik :D ).

Dalam sebuah percakapan dengan beberapa warga Jemaat di daerah lain, ternyata di sana juga mulai dikembangkan kursus atau kelas tambahan belajar bagi anak-anak warga Jemaat dengan biaya per bulan yang sangat terjangkau. Karena penyelenggaraan kursus ini bukan bertujuan utama untuk menghasilkan profit, maka fungsi iuran bulanan berperan sebagai ‘pengikat’ atau komitmen antara peserta belajar dan pengajar. Melihat hal tersebut, tentu bukan sesuatu yang mustahil jika gereja – di manapun berada – juga mulai memfasilitasi gerakan-gerakan serupa. Iya betul, banyak gereja yang memiliki Yayasan berbadan hukum yang bergerak di Bidang Pendidikan. Tapi akan selalu ada anak-anak yang memerlukan tambahan dukungan pendidikan, dan akan selalu ada orang dewasa yang juga memerlukan ruang aktualisasi diri, serta untuk mencari penghasilan tambahan.**