Ku paksa pintu mobil menahan beban tubuhku
Lalu ku pasrahkan kepalaku pada kacanya
Berharap itu adalah bahumu
Ku nikmati gulita di bawah langit
Gelap yang tanpa kepayahan mengundang kantuk
Tapi ada pendar hangat memanggilku untuk mendongak
Temaram purnama ternyata
"Kamu kenapa?" tanyanya
Tak ku jawab.
Tetiba anganku mengembara ke masa yang lewat
Ku ingat pernah ada khayal menyelinap di malamku
Ku ingat pernah ada kupu-kupu menyerang perutku
Ku ingat gelisah yang mengganggu lelapku
Sepertinya aku rindu.
~ ~
(Sebuah coretan dari selembar kertas lusuh di dalam buku usang nan berdebu yang tertumpuk bertahun lalu)
Thursday, January 10, 2019
Friday, May 5, 2017
Sang Pisang dan Aku
Kalo
baca status aku yang ini, pada percaya nggak sih kalo makanan itu tuh benar
adanya enak di lidah? J
Cita-cita,
harapan & keinginan : Ada.
Bagus
kan ya punya keinginan untuk mulai makan makanan sehat biar sehat dan langsing
(bonusnya)?
Harapan
bagus, supaya jadi bagus ya harus dikerjakan.
Mau
makan "two ingredients banana pancake" sehat, ya kudu turun ke dapur
dan mulai mengolah.
Pisang
dikupas, dihaluskan pakai garpu, pecahin 2 butir telur, aduk rata, panaskan
teflon & mulai masukin adonan ke teflon. Matang. Angkat. Nggak kurang nggak
lebih.
Naaah,
di sini nih beberapa skill diasah.
Gosong?
Ada.
Hasilnya
hancur? Ada.
Adonan
lengket di teflon? Pasti.
Berhenti? Sayaaang
atuh kalo adonan dibuang. Itu kan makanan. Ada orang di luar sana yang untuk
beli telur aja mikir :(
Jadi,
pilihannya hanya : lanjut dan selesaikan.
Kepanasan?
Kerasa lah.
Panik?
Mulai naik levelnya.
Kuciwa?
Ada juga.
Nunggu
mateng? Mulai gak sabar.
Harus
makan sendiri karena gak ada yang suka?
Hahahhaa.... Sepertinya inilah akhir
dari test pengelolaan emosi hari itu.
Ternyata,
mewujudkan harapan itu perlu persiapan. Harapan sederhana sekalipun.
Latihan
ngebalik gorengan, perlu diasah terus. Paham tekstur makanan dan mengira-ngira
kematangan, juga perlu latihan dan feeling yang kuat. Itu tehnisnya.
Soal
mental. Apakah hatimu nggak berantakan juga kalau pancake-mu terburai
acak-acakan? :D ditambah pula mendapati satu sisi terlihat hitam karena gosong?
Apalagi ketika beberapa orang yang kamu minta untuk mencicip, tapi raut
wajahnya tetiba berubah kaya orang kebelet pipis. Apa jawabmu, sodara-sodara?
Pengelolaan
emosi penting banget kan?
Aku
tahu banget kalau pisang dan telur itu makanan penuh gizi dan enak tiada tara.
Aku memasak mereka juga dalam rangka untuk memberi nutrisi ke badan aku. Dari
sisi spiritual, aku bersyukur masih diberi nikmat hebat ini. Dan aku mau
memakan mereka :)
Maka,
ku pandangi sang pisang dengan senyum. Kukunyah perlahan dan ditelan dengan
menikmati manisnya. Tidak ada yang buruk dari masakanku ini. Dan, aku akan
mengulangnya di hari-hari mendatang.
Itu
sudah.
Cerita
tentang Sang Pisang dan Aku.
Saturday, January 21, 2017
Alisku
![]() |
| Ini alis yang cetar alaminya :D |
Tapi kalo ngliat alisku, rasanya jadi rada pede. Soalnya jarang ngliat alis begini. Hitam, legam, lebat, nyambung, dan punya lengkung alami 😁
Ada yang ngeh kalo alis ku itu asli buatan sononya, tapi masih ada juga yang nyangka kalo aku pake pensil alis yg super tebel dan legam. Sampe-sampe orang itu ku suruh pegang alisku biar percaya, hahaha...
Jaman sebelum nikah, alisku gak pernah diapa-apain. Dengerin kata Ibuku kalau perempuan jawa itu alisnya kudu alami sebelum didandanin pas nikah. "Baik, Nyah" :)
![]() |
| Step by step mencukur alis ala Jeng Ran |
Nah, setelah cukup lama kenalan sama Oriflame, mulai tau deh tuh beberapa tips dandan, termasuk
merapihkan alis. Kebanyakan tutorial selalu menebalkan alis dengan pewarna tambahan (seperti pensil alis, eyeliner, atau eyeshadow), tapi kan alisku udah iteeeem banget. Ngapain ditambahin warna? Trus buat mempertegas bingkai, disaranin nutup pakai concealer. Lah, punya ku mana bisa? Lha wong rimbun bangettt.
Lalu mulailah belajar cabut alis. Hiyyy... serem ya? Ini ngikutin cara Ibu aku. Bisa tahan lebih lama karena dicabut sampai akar. Tapi seringkali perih pas bagian kelopak mata euy. Jadi ya gondrong lagi deh si alis. Mau nyoba cukur, tapi sama sekali blom pernah nyoba. Takut salah (nah, ini nih penyakit orang males. Selalu pake alasan "takut salah" lah, "takut gagal" lah. Huih.. Kalo takut mulu, kapan jadi cantik? :p ) Akhirnya ada seorang sahabat yang menyarankan "Cukur aja Ran. Sebelom cukur, itu si gondrongnya olesin lotion dulu. Biar licin & gak perih."
![]() |
| Sumber : Jar of Quote |
Just try what you what to try, cause you'll never know until you try :)
Friday, January 20, 2017
Air Terjun "Curug Cibeureum" & Kerjaan
![]() |
| 2015 Puncak Gunung Gede |
Dua tahun lalu berturut-turut, sebenernya juga udah pernah main ke sini. Tahun 2015 naik ke Puncak Gunung Gede, dan pertengahan 2016 lalu juga hiking main ke air terjunnya.
Waktu hiking tahun 2016, masih keinget banget rasa engap-nya nanjak. Tau kan engap? Sesek di dada dan tenggorokan, pening dan penglihatan agak kabur, ditambah mual dan muntahin angin :D
![]() |
| 2016 - Setelah eneg, dibayar sama yang sejukkk... |
Lalu, sekarang mau cerita tentang hiking yang awal tahun ini. Teman nanjaknya cukup bersahabat dan memahami "kekurangan" ku (Rasanya sih gitu. Atau aku yang GR yak? :D ). Jadi dengan dalih menikmati alam dengan melihat berbagai rupa tumbuhan liar atau sekedar berhenti untuk menyimak cicit burung dan mengambil foto owa jawa (sejenis primata dari keluarga monyet), perjalanan hiking kali ini emang santaaaai banget. Nggak engap, nggak sesak, nggak pening, nggak kenapa-napa, karena jalan perlahan dan tau kapan harus berhenti kalau mulai kerasa engap. Beneran menikmati udara segar yang udah jarang dihirup di Bandung. Setibanya di curug (air terjun), langsung deh ngebiarin diri diguyur air super sejuk. Brrr... Segerrr....
![]() |
| Hiking 2017 Setelah lewat gerbang, hp langsung dimatiin. Gak pake acara selfie lagi :D |
Oh iya.. rasa engap itu seringkali ngingetin aku dengan kerjaanku sekarang. Yang nggak jarang nemuin engap karena ketemu sama orang-orang yang nggak bisa diajak kerjasama, ketemu sama soal teknis yang rada lama diselesaikan karena masalah komunikasi, ketemu sama hal-hal yang bikin pening deh :D Tapi kalau pening, sesak, kabur pandangan, dkk itu bisa diatur, dan tetap jalan terus, di akhir bulan biasanya kebayar sama yang seger-seger. Gajian cuy, hohohoh..
Ya udah. Mau cerita gitu aja. Kapan-kapan mau camping ke gunung lagi ahhh.... Ikutan yok?
Thursday, May 12, 2016
Dia Bukan Anak Nakal - Sebuah Perjumpaan Dengan Batita
Panggilannya Chia. Nama lengkapnya Felichia Ayu Pandika.Ini adalah pertemuan ketiga aku dengan dia. Yang pertama, sama sekali tidak bertegur sapa. Mungkin karena aku masih asing sama sekali, ditambah waktu itu dia sedang sakit juga. Yang kedua, mulai tidak keberatan aku pangku, lalu digendong, dan saat perpisahan, dia menjerit nangis karena aku pergi meninggalkan Jogja. Pertemuan ketiga masih belum cukup smooth. Di awal-awal dia masih jual mahal :D tapi lama kelamaan, jadilah dia sangat lengket denganku dan Aa (suamiku).
Yang mau ku ceritakan kali ini adalah toddler is a great imitator.
Begini ceritanya. Cia itu suka sekali dengan permainan bunyi. Mulai dari "cilukbaaa" sampai meniru bunyi-bunyian binatang. Maka dari itu, untuk menghangatkan suasana pertemuan, berbagai bunyi-bunyian kami coba ciptakan biar dia tidak perlu merasa asing dengan kami. Mulai dengen "cilukbaa", bunyi "miaw" dan "guuukguk", sampai bunyi mengorok dan pura-pura tidur. Tidak sekali atau dua kali. Cukup sering karena si bocah memang senang mendengar bunyi-bunyian.
Durasi perjumpaan kami tidak sampai 24 jam sehari kok. Paling hanya pagi hari sampai jelang dia mau bobo siang. Lalu dengan sore sampai malam hari sebelum dia kelihatan mengantuk.
Di hari ketiga jumpa, ketika sedang bermain bunyi-bunyian, dia menggoda Aa dengan bunyi "rrrrkkkk...." seperti bunyi mengorok pada orang tidur. Sekali. Dua kali. Dan dilakukan cukup mirip dengan bunyi ngorok yang Aa pernah mainkan dengan dia.
Haaa? Dia meniru bunyi dari Aa? Secepat ini bocah yang belum genap 2 tahun meniru orang di dekatnya? Lihat sekali dia.
![]() |
| Sumber : Pinterest |
Saya belum pernah belajar psikologi anak, maupun memiliki anak :p
Tapi melihat perilaku Cia (dan banyak artikel lain yang membahas tentang tumbuh kembang anak), rasanya benar ketika ada quote yang berbunyi seperti gambar di samping, "Children are great imitators."
Cia saja yang baru berjumpa dengan kami beberapa hari, sudah 'bisa' meniru yang kami lakukan (walau ini adalah sebuah candaan). Apalagi jika bocah ini bersama dalam waktu yang lama? Pasti akan ada lebih banyak hal yang akan dia tiru.
Lalu tetiba pikiranku melayang pada beberapa ungkapan kawan yang pernah bilang, "Aduuh.. anak aku rewel," "Anak aku selalu ngrebut hape aku," "Anak aku nggak bisa diem. Selalu bikin rusak," "Dek.. Nggak boleh nakal ya.." (ngomong ke anaknya di depan aku) dan kalimat-kalimat lain yang bikin aku sedih.
Kalau mereka rewel, mereka merebut hp, mereka bikin rusak, itu mereka ngliat siapa? Hal apa saja yang mereka terima di keseharian mereka? Siapa yang memberi contoh? Kenapa dikasih wejangan "jangan nakal"? Padahal mereka nggak ngapa-ngapain jugak. Hadeuuhh...
Mungkin, mungkin sebenarnya mereka itu para orang tua yang sedang kelelahan aja. Jadi cerita mereka terdengar seperti nge-cap di telingaku. Tapi tetap saja, telingaku rasanya agak nggak terima (haduuhh.. padahal bukan anak gue jugak... Maapkan akuuu...)
Aku sedih karena anak sekecil itu harus menerima rupa-rupa "tuduhan" dari orang dewasa. Anak sekecil itu harus menerima cap buruk dari orang yang lebih dewasa. Anak sekecil itu ....
Ah, sudahlah.. Aku akan dianggap lebay dan pengen ikutan urusan dapur orang kalo melanjutkan tulisan yang baper inih. Hahaha....
Untuk Cia. Cia, kamu itu hebat dan berani. Teruslah menjadi Cia yang menyenangi bunyi-bunyi dan menjadi kayalah dengan semua imajinasimu tentang rupa-rupa bunyi itu. ^_^
Monday, March 21, 2016
ABC Adaaa Braaaaapaaa...
Pernah main begituan gak waktu jaman kecil dulu? Sambil bilang "ABC ada berapaaa?" Sambil jari jemari disodorkan ke depan. Lalu jumlah jemari dihitung dengan menggunakan huruf abjad.
Setelah huruf jari terakhir dihitung dan abjad ditentukan, maka masing-masing pemain dengan kecepatan cahaya tongue emotikon langsung menyebutkan 1 kata yang dimulai dengan huruf abjad yg terakhir tadi.
Pernah? Pernah kan? grin emotikon
Pernah? Pernah kan? grin emotikon
Nah, tadi siang kami jadinya malah maen "ABC ada berapa.." di kelas, ihihiih..
✌✌
Sabtu : jadwalnya bagi raport. Minggu : Libur. Senin : Ada perayaan Pesta Nama (eh.. atau apa ya namanya?). Karena ngrasa gak ada PR atau tugas, jadi mereka susaaaaah banget diminta untuk buka buku.
![]() |
| Sumber : http://akkewcoa.pun.bz/ |
Tapi kan mereka harus belajar sesuatu. Pikir pikir pikir.. Tebak-tebakan nama & warna benda di ruang kelas : Udah. Tapi udah ketebak semua. Pikir pikir pikir.. Criiingg..
Anak-anak ide untuk main "ABC ada berapaaa..." dan jadilah kami maen begituan selama hampir 1 jam. Sampai ada kakak-kakak kelas 4 dan 5 yang jadi ikutan maen 😂
Anak-anak ide untuk main "ABC ada berapaaa..." dan jadilah kami maen begituan selama hampir 1 jam. Sampai ada kakak-kakak kelas 4 dan 5 yang jadi ikutan maen 😂
Kesepakatan dibuat di antara mereka. Saya jadi juri yang mengesahkan kesepakatan plus tetep ikutan maiiin dong 😄 Dari sekedar tebak kata, ada waktu hitungan mundur, sampai mereka punya ide untuk coret pipi pake lipstik saya 😂😂
Baiklaahh.. Hayooo kita main "ABC ada berapa" dengan menebak kata dalam bahasa Inggris. Yes. Words in English. And they're doing it soooo good!!
Baiklaahh.. Hayooo kita main "ABC ada berapa" dengan menebak kata dalam bahasa Inggris. Yes. Words in English. And they're doing it soooo good!!
Hari ini saya seneeeng banget bisa (bermain &) belajar kosakata bahasa Inggris sama anak-anak 😄😄
Seruu seruu seruuu!
Seruu seruu seruuu!
Semoga masih banyak orang dewasa yang mau memakai metode bermain-sambil-belajar untuk banyak hal. Karena dunianya anak-anak tuh ya main. Ingat! M. A. I. N 😄😄😄
~ ~ ~ ~ ~
Suatu Jumat siang yang cerah di sebuah ruang kos (yang disulap jadi kelas lesehan) pada akhir Maret 2016.
Friday, December 11, 2015
Rumah Belajar “Embrio” : Dua Jam Sebagai Pengganti Peran Ayah-Ibu Bekerja (Part 2)
![]() |
| Main lego sebelum mulai belajar |
Saya
bergabung dengan Rumah Belajar “Embrio” pada Juli 2015 lalu. Selain tentang
pelajaran Sekolah Dasar, ada hal lain yang saya lihat di sini. Ternyata cukup
banyak anak murid yang sengaja dileskan bukan karena kemampuan akademiknya
kurang. Tapi karena supaya tidak keluyuran
dari sekolah sebelum dijemput orangtuanya. Fenomena yang banyak dijumpai saat
ini adalah banyak orang tua (suami dan istri) sama-sama bekerja, sehingga
seringkali melewatkan jam belajar di rumah bersama anak-anak mereka. Karena
merasa kewalahan dengan energi dan waktu yang tersita di kantor dan pekerjaan
masing-masing, maka rumah belajar menjadi solusi alternatif. Selain PR sudah
dikerjakan di rumah belajar, anak-anak juga akan terawasi oleh orang dewasa
yang dikenal oleh orang tua.
Di satu sisi
saya miris melihat fenomena orang tua masa kini yang terlihat seperti abai untuk
mendampingi tumbuh-kembang putra-putri mereka. Para orang tua kebanyakan lebih
memilihkan kegiatan ekstrakurikuler maupun bermacam-macam les untuk mengisi
waktu anak-anak mereka. Si anak sedari subuh sudah harus siap ke sekolah. Di
sekolah sampai sekitar jam 12.00. Sepulang sekolah harus menuju ke rumah
belajar. Setelah itu masih harus menunggu dijemput orangtuanya. Jadi, “Embrio”
ini bukan sekedar rumah belajar saja, tapi juga merangkap ‘menyediakan jasa’
penitipan anak J
Di luar
perasaan miris tersebut, tentu saya merasakan banyak manfaat dan pelajaran dari
keberadaan “Embrio”. Jika lembaga bimbingan belajar lainnya setelah selesai
kelas, si murid harus segera keluar dari kelas. Di “Embrio”, setelah selesai
mengerjakan PR, murid masih bisa bercengkerama dengan pengajar. Di lembaga
bimbingan belajar lain jika kelas sudah bubar, maka yang terlambat dianggap
membolos. Di “Embrio”, jika si murid harus mengikuti kegiatan tambahan di
sekolah yang menyebabkan keterlambatan belajar di “Embrio”, masih diperbolehkan
masuk ruangan dan mengerjakan PR dengan tetap didampingi pengajar. Di lembaga
bimbingan belajar lain, agak sulit membiarkan anak duduk leyeh-leyeh karena kelelahan saat belajar. Di “Embrio”, beberapa
kali ada murid yang tertidur a
tau sekedar berbaring di lantai karpet setelah ‘ngambek’ karena sedang bad mood dan lelah. Selama dalam posisi tenang, teman-teman lainnya tetap bisa belajar seperti biasa. Yang tertidur? Ya dibiarkan saja. Namanya juga capek.
tau sekedar berbaring di lantai karpet setelah ‘ngambek’ karena sedang bad mood dan lelah. Selama dalam posisi tenang, teman-teman lainnya tetap bisa belajar seperti biasa. Yang tertidur? Ya dibiarkan saja. Namanya juga capek.
![]() |
| Membantu mengeringkan genangan air |
Memang pada
mulanya “Embrio” dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup si pendiri. Dengan
bekal kesukaannya atas dunia anak-anak dan matematika, “Embrio” terus
bertumbuh. Sampai saat ini tercatat ada 23 peserta belajar dengan 2 pengajar.
Ada harapan ke depan bahwa “Embrio” tidak lagi dikerjakan secara personal,
berdua, atau bertiga saja. Namun bisa menjadi bagian dari program pelayanan
gereja yang memberdayakan warganya. Diakonia yang kebanyakan dilaksanakan oleh
gereja baru ‘sekedar’ memberikan bantuan sembako, biaya pendidikan, atau
keringanan biaya berobat. Banyak gereja memilih bidang pertanian, peternakan,
atau kerajinan tangan sebagai alternatif untuk pengembangan diakonia transformatif. Tapi
belum banyak yang menunjukan kemajuan signifikan. Ya, beberapa ada yang
berhasil membangun komunitas produktif. Tapi banyak juga yang hilang kabar
beritanya.
Ketika
gereja, secara lembaga, mengusung tema “Menjadi Berkat bagi Sesama” maka
semestinya direalisasikan bukan ‘hanya’ di dalam gedung gereja. Tapi
sungguh-sungguh memikirkan strategi pengembangan untuk menjangkau keluar tembok
gereja. Tentu saja dimulai dan digerakan oleh warganya sendiri. Bidang pendidikan
bisa menjadi salah satu alternatif yang digarap gereja untuk memulai gerakan
diakonia transformatif sekaligus ikut berperan serta dalam meningkatkan
kualitas generasi penerus bangsa.
“Embrio”
memiliki rencana ke depan untuk menerima lebih banyak peserta belajar dan membuka
cabang rumah belajar, serta membuka kelas pra sekolah dasar. Ketika ide dan
program ini direspon oleh gereja, ada harapan bahwa program ini akan lebih
banyak menjangkau warga jemaat dari berbagai rentang usia dan latar belakang (misalnya
: melibatkan pemuda gereja yang belum mendapatkan pekerjaan, memberikan wahana
pelatihan dan atau pilihan ladang pelayanan bagi mahasiswa/siswa, bahkan
menjadi pilihan bagi orang-orang yang tidak bisa menyanyi atau bermain musik :D
).
Dalam sebuah
percakapan dengan beberapa warga Jemaat di daerah lain, ternyata di sana juga
mulai dikembangkan kursus atau kelas tambahan belajar bagi anak-anak warga
Jemaat dengan biaya per bulan yang sangat terjangkau. Karena penyelenggaraan
kursus ini bukan bertujuan utama untuk menghasilkan profit, maka fungsi iuran
bulanan berperan sebagai ‘pengikat’ atau komitmen antara peserta belajar dan
pengajar. Melihat hal tersebut, tentu bukan sesuatu yang mustahil jika gereja –
di manapun berada – juga mulai memfasilitasi gerakan-gerakan serupa. Iya betul,
banyak gereja yang memiliki Yayasan berbadan hukum yang bergerak di Bidang
Pendidikan. Tapi akan selalu ada anak-anak yang memerlukan tambahan dukungan
pendidikan, dan akan selalu ada orang dewasa yang juga memerlukan ruang
aktualisasi diri, serta untuk mencari penghasilan tambahan.**
Subscribe to:
Posts (Atom)











